Hendri Utomo/Radar Jogja
KURANG IDEAL: Ketua Komisi II DPRD Kulonprogo Muhtarom Asrori SH bersama anggota saat meninjau Pasar Glaeng, di Desa Sindutan, Temon, Kulonprogo, kemarin.

KULONPROGO – Menyongsong pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo, beberapa fasilitas umum di sekitar area bandara dinilai perlu dibenahi. Salah satunya adalah Pasar Glaeng di Pedukuhan Glaeng, Sindutan, Temon.
“Pasar yang berada tidak jauh di timur Jembatan Congot ini akan menjadi tempat yang sangat strategis. Terlebih letaknya berada di dekat pintu bandara arah barat,” terang Ketua Komisi II DPRD Kulonprogo Muhtarom Asrori SH saat kunjungan lapangan bersama anggota komisi di pasar itu, kemarin (27/11).
Muhtarom mengatakan, setelah bandara beroperasi, titik itu akan sangat ramai. Masyarakat juga butuh pasar yang representatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Tidak menutup kemungkinan pengunjung bandara dari Purworejo, Kebumen dan sekitarnya, juga mampir ke pasar itu,” kata politisi PAN ini.
Saat ini kondisi Pasar Glaeng masih kurang memadai. Selain lokasinya relatif sempit, sarana prasarananya juga kurang mendukung untuk aktifitas jual beli. Area parkir di badan jalan raya dan banyak pedagang yang tidak tertampung di los.
“Kami berharap pemkab segera membenahi pasar itu. Ada beberapa alternatif pembenahan yang bisa dilakukan. Antara lain, membuat bangunan bertingkat atau memindah lokasi pasar ke tempat lain. Pindah lokasi di sisi utara jalan naional lebih ideal,” jelasnya.
Anggota Komisi II Priyo Santoso SH menambahkan, Pasar Glaeng perlu pembenahan agar semua lapisan masyarakat tertarik untuk berbelanja di pasar ini. Selain sarana dan prasarana, yang perlu ditingkatkan adalah penataan dagangan.
“Kalau kondisi pasar lebih bagus, bersih dan dagangannya tertata dengan baik, maka semua goolongan masyarakat lebih senang datang, tidak memilih toko modern,” imbuhnya.
Anggota komisi II lainnya Titik Wijayanti SE menyoroti kondisi MCK yang dinilainya kurang memadai. Satu unit MCK yang terdiri atas empat kamar mandi kurang proporsional dengan jumlah pedagang dan pengunjung yang jumlahnya ratusan orang.
Petugas Lapangan Kusni Subagyo menyebutkan, Pasar Glaeng berdiri di tanah kas Desa Sindutan dengan luas sekitar 6.500 meter persegi. Pasar beroperasi setiap hari Selasa dan Jumat. Dengan jumlah pedagang sekitar 230 orang.
Sebagian besar pedagang menempati delapan los yang tersedia. Namun karena los tidak bisa menampung seluruh pedagang, sebagian memilih berjualan di luar los. Dari sekitar 230 pedagang setiap hari pasaran diperoleh retribusi sekitar Rp 125 ribu. “Setiap pedagang dipungut retribusi Rp 200 dan jasa kebersihan juga Rp 200,” terangnya.
Terkait MCK, Kusni mengakui banyak keluhan dari pedagang agar jumlahnya ditambah. Dia mengaku sudah sering mengusulkan ke Dinas Perindag dan ESDM, namun hingga kini belum dikabulkan. (tom/laz/ong)