Dok Pak Djoko for Radar Jogja
KHAS: Pak Djoko bersama istrinya sedang mengolah sate Anglo.

JOGJA – Bagi pengemar sate ayam tentu sudah tak asing lagi dengan sate khas Pak Djoko yang melegenda. Bisnis rumahan yang tadinya hanya melayani pesanan untuk kalangan pemerintahan, corporate, hajatan rumah tangga, warung makan, dan angkringan ITU, kini hadir di Jalan Tuntunan No 1007 Jalan Batikan, belakang Kampus Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Taman Siswa.
Jika sebelumnya dengan nama sate khas Pak Djoko, kini pria 68 tahun ini menamainya dengan sebutan Sate Anglo. Alasannya, proses pembakarannya dilakukan di anglo, sebelum kemudian dipindah ke pembakaran biasa.
Pemilik Sate Anglo Djoko Handoko menuturkan, warung barunya ini merupakan bentuk pengembangan dari bisnis sate ayamnya terdahulu. Jika tadinya ia hanya melayani pesanan rumahan saja, kini pelanggan dapat menikmati secara langsung tanpa memesan terlebih dahulu, alias datang langsung.
“Jadi mereka yang mau makan tidak harus pesan dalam jumlah besar, karena bisa sesuai kebutuhan. Kalau datang ke warung kan enak, mereka maunya seberapa bisa kami layani sesuai keinginan,” kata pria yang kerap di panggil Pak Djoko ini, saat ditemui di warung barunya.
Kekhasan sate buatan Pak Djoko terletak pada tiga hal: rasa, proses pembuatan, dan ukuran daging yang dipotong besar- besar. Penikmat sate ayam, Bayu Mukti, mengungkapkan, rasa sate ayam Pak Djoko ini gurih dan lezat. Tekstur dagingnya yang empuk menjadi kekhasan kedua. “Selain itu, proses pembuatannya yang tidak biasa, yakni dengan beberapa tahapan, juga menjadi ciri khasnya,” kata Bayu.
Djoko menjelaskan, proses pembuatannya sendiri dimulai dari daging dipotong-potong terlebih dahulu kemudian diuleni dengan 11 bumbu rahasia. Lalu disimpan ke dalam freezer selama beberapa waktu agar bumbu meresap, baru setelah itu dibakar.
Ada dua tahap pembakaran di Sate Anglo ini. Pertama, sate dibakar di atas bara api ukuran sedang menggunakan media anglo, baru setelah daging setengah matang dipindah ke bara api yang lebih besar ke dalam pembakaran sate biasa.
Pak Djoko menuturkan, tujuan dari metode ini adalah selain memberi rasa tersendiri sate yang dibakar menjadi lebih bersih dan sehat saat di konsumsi. “Kenapa sehat karena biasanya daging yang dibakar di tempat yang sama secara berulang-ulang, pasti akan menimbulkan kerak. Sementara kalau metode pembakarannya dua kali, bisa sedikit mengurangi,” jelasnya.
Untuk satu kilogram daging ayam, Djoko mengaku hanya bisa jadi sekitar 20 tusuk. “Dari awal buka usaha tahun 1987 saya memiliki komitmen sate yang saya buat bukanlah sate- satean. Alias sate yang benar-benar ada dagingnya. Kan banyak itu penjual sate ayam yang dagingnya enggak ada. Kalaupun ada nempel sama tusuknya,” tuturnya.
Sate Anglo tersaji dalam dua pilihan rasa, sate ayam negeri dan sate ayam kampung. Sebagai pelengkap, keduanya dapat dinikmati bersama nasi putih ataupun lontong. Selain itu, bumbu sate juga tersaji dalam dua pilihan, bumbu kacang dan bumbu kecap. Bumbu kacang diperuntukkan bagi mereka yang tak suka pedas, sementara bumbu kecap bagi mereka yang suka pedas.
Sama seperti penyajian sate pada umunya, Sate Anglo Pak Djoko juga dihidangkan bersama aneka lalapan seperti kobis, tomat, dan mentimun. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, mulai Rp. 10.000 untuk sate ayam negeri, dan Rp. 14.000 untuk sate ayam kampung porsi normal, terdiri atas empat tusuk sate ayam.
Namun bagi yang merasa kurang dengan porsi yang ditawarkan, bisa memesan sate porsi jumbo dengan jumlah tusuk dan harga dua kali lipat dari porsi biasa, yakni Rp. 18.000 untuk sate jumbo ayam negeri dan Rp. 26.000 untuk sate jumbo ayam kampung.
Bagi yang ingin mencicipi Sate Anglo Pak Djoko, warung ini buka setiap hari, pukul 17.00 – 22.00 WIB untuk Senin- Jumat dan 16.00-22.00 WIB untuk Sabtu dan Minggu. Sate Anglo Pak Djoko juga hadir dalam pameran kuliner Pesona Nusantara di JEC pada Jumat (27/11) hingga Selasa (1/12) dan street food festival 12-16 Desember 2015. (sce/met/laz/jiong)