“Menjadi pemimpin jangan hanya menyalahkan anak buah. Tapi, bagaimana caranya membuat mereka berbuat benar, serta memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan.” Kalimat itulah yang dipahami dan diterapkan oleh Direktur Utama RS Jogja drg Hj Tuty Setyowati.
DENGAN prinsip itulah Tutut, sapaan akrabnya, mampu mela-kukan banyak perubahan di rumah sakit berpelat merah tersebut. Melalui sentuhan tangan dingin Tutut, dengan cepat RS Jogja mengalami perkembangan. Kini, rumah sakit milik pemkot itu telah mendapatkan berbagai penghargaan. Terbaru, untuk standardisasi pelayanan, mereka mengejar ISO 2001. “Sebagai rumah sakit, pelayanan adalah napas,” ujar Tutut, kepada Radar Jogja, akhir pekan lalu.Mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja ini menegaskan, sebagai layanan kecepatan nomor satu semua pelayanan wajib dipercepat. “Jika biasanya periksa di poli harus ngantri, sekarang dimak-simalkan pelayanannya. Tolok ukurnya waktu,” jelasnya.
Tutut mengisahkan, saat per-tama kali memimpin RS Jogja, dia memang langsung mengeva-luasi waktu pelayanan. Layanan untuk memeriksakan pasien ke poli butuh waktu lebih dari setengah jam. Itu hanya sekadar menyampaikan pemeriksaan rekam medis pasien sampai ke meja dokter.Di tangan Tutut, hal tersebut dirombak. Terlebih, ia mene-mukan nomor antrian menjadi komoditas jual beli pihak-pihak tak bertanggung jawab. “Harga nomor antrian itu bisa sampai Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu,” sesalnya.
Sadar lembaga yang dia pimpin bermasalah, Tutut melakukan terobosan. Kecanggihan tekno-logi diterapkan demi mengurai masalah lambatnya pelayanan. Menurut Tutut, sekarang sudah dilaksanakan. Pasien cukup mengirimkan SMS (short mes-sage service) dan mendapatkan barcode. “Dokter bisa menda-patkan rekam medisnya sebelum praktik, sehingga mempercepat pemeriksaan dan pelayanan,” ujarnya. (eri/ila/ong)