PERUBAHAN kerap sulit diterima seseorang. Hal-hal baru terkadang juga sulit diterapkan, meski nantinya berdampak po-sitif. Tapi bagi drg Hj Tuty Se-tyowati mencoba hal baru merupakan keharusan. Ini pula yang dia lakukan setelah sukses memimpin Dinas Kese-hatan Kota Jogja. Kesuksesannya menerapkan hal baru di sana coba dia ulangi di RS Jogja. Tentu saja, di tempat kerjanya saat ini, keberaniannya mengenalkan hal baru pada karyawan diuji. Dia memulai dengan menyebar-kan virus dinamis bagi semua karyawan.
Tutut, sapaannya, me-nularkan sikap penuh semangat dan tanggap pada bawahannya. Hasilnya, dengan cepat terasa. RS Jogja tak hanya mampu me-layani pasien dengan kepuasaan. Mereka mampu memberikan sumbangsih bagi Pemkot Jogja di penghargaan Inovasi Award. “RS Jogja menjadi rumah sakit pertama yang menerapkan pe-layanan SMS,” ungkapnya. Tak berhenti di situ. Sebagai rumah sakit milik pemerintah, RS Jogja juga akan mewakili pemkot di penghargaan zona berintegritas KPK. “Ini masih proses verifikasi,” jelasnya.
Baginya, penghargaan zona berintegritas KPK ini penting.Apalagi, di RS Jogja, pernah ter-sandung masalah hukum. Peng-adaan alat-alat kesehatan sempat bermasalah. Ini pula yang sampai menyeret Petuga Pelaksana Ko-mitmen (PPKom) kala itu harus meringkuk di balik jeruji besi. “Semua harus terbuka. Ini kan pelayanan publik. Jadi, masya-rakat juga harus bisa mengontrol. Mereka bisa mengakses ke dalam,” tuturnya.
Sedangkan, untuk produk utama, Tutut mengakui, sampai saat ini terus berbenah. Kini, target ISO terbaru tengah dikejar. Tutut ingin pelayanan yang optimal menjadi sistem yang berjalan di RS Jogja.”Semua sepakat, apa yang telah dicapai ini dipermanenkan. Makanya, kami kejar target ISO,” ujarnya. (eri/ila/ong