INGIN merasakan sensasi liburan yang tak biasa? Bisa menuju Kawasan Dolly di Surabaya. Mengerutkan kening saat mendengar kata “Dolly”, tenang saja pascapenutupan 18 Juni 2014, warga di sana mengembangkan Inspiratrip. Wisata napak tilas dengan rute menuju ex Wisma Barbara, dan menyusuri Kampung Positif. Hingga mencicipi kripik singkong Samijali (Samiler Jarak Doli).
Inspiratrip ini diinisiasi oleh sekum-pulan anak muda yang tergabung dalam Gerakan Melukis Harapan (GMH). Ketua GMH Dalu Nuzulul Khiron mengatakan, tak ingin menutupi sejarah maka dibuatlah kegiatan napak tilas ini. Rute yang diambil menyusuri Jalan Jarak dan Gang Doli. Di sana, terdapat beberapa bangunan ikonik, salah satunya Wisma Barbara milik tante Dolly yang men-jadi asal mula prostitusi.”Di bangunan enam lantai itu, dulunya terdapat kamar yang digunakan oleh para penjaja seks. Saat ini, diubah jadi lokasi pembuatan sepatu,” ujarnya saat ditemui belum lama ini.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kampung Positif yang berada di Jalan Putat Jaya Gang IIA. Di kampung ini, terdapat Taman Baca Kawan Kami. Setelah itu, menuju Kampung Oleh-Oleh. Nah, di sini banyak sekali produk yang bisa dibeli sebagai cenderamata. Misalnya saja di Gang 4A terdapat sekelompok warga yang membuat produk makanan khas, Samijali.
Keunikan lainnya, sejumlah warga di sana masih mempertahankan pernak-pernik suasana Dolly tempo dulu. Salah satunya dengan tetap memasang tanda “Rumah Tangga”. Tanda ini dulunya untuk menandai perbedaan rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal dengan bangunan untuk prostitusi.Sejarah Dolly, awalnya merupakan kawasan pemakaman Tionghoa. Kawasan ini oleh seorang noni asal Belanda, Dolly, disulap jadi lokasi prostitusi untuk tentara Belanda. Kawasan Dolly sempat menjadi lokasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. (ila/ong)