BELUM pernah sedikit pun terbersit untuk traveling ke Taman Nasional Baluran. Diajak seorang teman yang ngotot mau melihat banteng di sana, saya akhirnya tergoda. Apalagi setelah membaca referensi tentang taman nasional ini, saya jadi ikut bersemangat dan penasaran.Taman nasional ini terletak di Banyuputih, Situbondo atau tepatnya di utara Kabupaten Banyuwangi. Untuk menuju ke sana harus menempuh 14 jam perjalanan meng-gunakan kereta api dari Jogja. Malam sekitar pukul 21.00 kami sudah tiba di Stasiun Banyuwangi. Mobil carteran sudah menunggu, dan siap mengantar kami ke homestay yang sudah kami pesan sebelumnya.
Rupanya, tidak sampai satu jam menempuh per-jalanan, saya tiba di Desa Wisata Ke-bangsaan, tempat homestay kami berada. Kami ingin mengejar sunrise, perjalanan masuk ke Baluran dimulai dini hari pukul 04.00. Alarm belum juga berbunyi, Pak Subakat, pemilik penginapan mengetuk pintu kamar untuk membangunkan kami.Ditemani Mas Heri, putra Pak Subakat, kami memulai perjalanan. Udara sejuk merasuk kulit, namun tidak sedingin yang saya bayangkan. Mungkin karena kemarau. Memasuki pintu masuk taman nasional, palang pintu memang masih tertutup. Wajar saja, karena taman ini sebetulnya baru mulai beroperasi pukul 08.00 hingga 16.00. Namun karena sudah izin, kami menjadi pengunjung pertama hari itu. Setelah membayar retribusi Rp 15.000 per orang, mobil melaju memasuki kawasan taman.
Di taman ini, ada dua tempat yang biasa jadi anjungan wisatawan. Savana Bekol dan Pantai Bama. Dari pintu masuk hingga sampai ke sanava, perjalanan kami tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Kami sengaja jalan santai, karena kondisi jalan tidak mumpuni untuk mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Jalan yang dilewati masih berupa sungai kering alias hanya tanah berbatu.Di sepanjang perjalanan, di kanan dan kiri hanya ada pohon dan tumbuhan. Sekitar 444 jenis tumbuhan, di antaranya merupakan tumbuhan asli yang khas dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering. “Dulu sebelum dibuka untuk umum, binatang liar yang keluar lebih banyak, salah satunya panthera,” ujar Mas Heri. Namun kini, panthera sangat jarang muncul. Meski tak bisa melihat panther, beruntungnya kami, sekawanan merak melintas di depan. Saya langsung minta berhenti, turun dan berjalan mengendap-endap. Wow, seekor merak membentangkan bulu-bulunya yang indah. Sepertinya si merak menyadari kehadiran kami, dia lantas segera meringkupkan bulunya yang berwarna hijau, biru, dan merah. Kemudian berlari ke dalam hutan.Beberapa monyet ekor panjang juga menyambut kedatangan kami saat tiba di Savana Bekol.
Sejauh mata memadang, savana berwarna kuning kecokelatan terlihat menawan. Ditambah lagi warna jingga matahari yang baru muncul di ufuk timur, melengkapi cantiknya Savana Bekol pagi itu. Kawanan rusa menambah keindahan taman nasional. Baru kali ini saya melihat kawanan rusa berjumlah lebih dari 10 ekor berjalan dengan bebas, liar tanpa ada pagar besi di sekelilingnya. Taman nasional ini merupakan perwakilan ekosistem hutan di Pulau Jawa yang cenderung kering, seperti savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, dan hutan rawa.Terdapat 26 jenis satwa yang tinggal di kawasan ini, rusa, monyet ekor panjang, merak, dan banteng yang berhasil kami liat hanya sebagian kecilnya saja. Belum lagi 155 spesies burung yang hidup di kawasan ini. (dya/ila/ong)