Oleh; Kusno S Utomo
Redaktur Senior Radar Jogja

Suksesi Pura Pakualaman (4)

PROSES suksesi dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam V ke-pada penggantinya Paku Alam VI relatif berjalan mulus. Tak ada gejolak berarti. Ini sa ngat berbeda dengan peristiwa saat KPH Suryodilogo di daulat menggantikan keponakannya Paku Alam IV menjadi Paku Alam V
Kala itu muncul persoalan, karena Paku Alam IV tidak me-miliki anak laki-laki dari garwa padmi atau permaisuri. Pilihan kemudian jatuh pada KPH Su-ryodilogo yang merupakan putra dari Paku Alam II yang lahir dari garwa selir (ampeyan).Paku Alam V wafat pada 6 No-vember 1900 setelah selama 22 tahun bertakhta. Dari garwa padmi dan selir, Paku Alam V memiliki sejumlah putra laki-laki yang telah dewasa. Sesuai aturan, putra sulung yang lahir dari permaisuri menda-patkan prioritas dibandingkan anak laki-laki yang lahir dari garwa selir.Putra sulung tersebut bernama KPH Notokusumo. Saat meng-gantikan ayahnya, Notokusumo berusia 45 tahun.
Dia menda-patkan pangkat militer Kolonel bij den generalen staf van het Nederlandsch-Indisch Leger. Sama seperti lima pendahu-lunya dari Paku Alam I hingga Paku Alam V, penobatan adip-ati baru tersebut tidak berlangs-ung di Bangsal Sewatama Pa-kualaman sebagaimana dewasa ini terjadi. Tapi penobatan dilakukan da-lam upacara yang khidmat di Loji kediaman Residen Jogja-karta (sekarang Gedung Agung) pada 11 April 1901. Paku Alam VI dilahirkan pada Kamis Legi 4 Ruwah 1784 atau 9 April 1856.
Usia kepemimpinan Paku Alam VI ini tidak berlangsung lama. Empat belas bulan setelah ber-takhta 9 Juni 1902, dia meninggal dunia. Sebelum wafat, dia dike-tahui menderita sakit tenggorokan. Selama Paku Alam VI sakit, pelaksana tugas sehari-hari di-jalankan adiknya, KPH Notodi-rodjo. Paku Alam VI wafat saat usianya baru 46 tahun dan men-jadi adipati yang paling singkat bertakhta.Hingga akhir hayatnya, Paku Alam VI memiliki sembilan orang anak yang terdiri empat laki-laki dan lima perempuan.
Dari permaisuri, GKR Timur, lahir BRMH Surarjo yang kelak men-jadi Paku Alam VII. Jenazah Paku Alam VI dima-kamkan di Astana Girigondo, Kulonprogo, satu kompleks dengan ayahandanya, Paku Alam V. Dia menjadi adipati yang ke-dua yang jasadnya bersemayam di Girigondo. Sebelum Paku Alam V, adipati Pakualaman dari Paku Alam I sampai dengan Paku Alam IV jenazahnya dimakamkan di Ma-kam Raja-Raja Mataram Kota-gede. Pembangunan Astana Gi-rigondo dilakukan di masa Paku Alam V bertakhta. (bersambung)