GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
EFEK JERA: Simpatisan partai pendukung calon kepala daerah di Sleman dihukum polisi dengan cara mendengarkan raungan knalpot blombongan di halaman Mapolda DIJ, Minggu (29/11).
SLEMAN – Mencubit paha sendiri, barulah paha orang lain. Peribahasa yang berarti rasakan sendiri sakitnya sebelum menyakiti orang lain ini layak menggambarkan para simpatisan pa-sangan calon (paslon) yang berkampanye dengan knalpot blombongan. Pasalnya, pengendara knalpot blombongan dipaksa mendengarkan suara knalpotnya sendiri secara langsung. Bahkan mereka diminta untuk mendekatkan telinga mereka ke samping knalpotnya. Pemandangan itu terlihat di di halaman Mapolda DIJ, kemarin (29/11)
Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti mengakui, para pengendara motor dengan knalpot blombongan ini dimin-ta untuk mendengarkan suara knalpotnya sendiri. Hal itu ber-tujuan memberikan efek jera. Dengan begitu, diharapkan mereka sadar bahwa knalpot blombongan sangat mengang-gu kenyamanan orang lain.”Satu temannya yang mbleyer blombongan, kemudian teman lainnya suruh mendengarkan secara bergantian,” tandasnya.
Selain itu, jelasnya, pengen-dara yang menggunakan knal-pot yang tidak sesuai peruntu-kannya jelas ditilang. Setelah sidang tilang baru akan diberi-kan sepeda motornya dengan syarat dikembalikan ke knalpot yang standar. Anny mengungkapkan, Polda DIJ berhasil menjaring sebanyak 27 pengendara roda dua yang meresahkan saat kampanye pil-kada, Minggu kemarin.
Dari jum-lah itu, 20 di antaranya terbukti menggunakan knalpot blom-bongan yang meresahkan warga karena membuat bising. Sedang-kan tujuh lainnya tidak meng-gunakan knalpot blombongan namun nekat melawan arus.”Selain itu, kita amankan juga satu orang yang kedapatan mem-bawa airsoftgun dan langsung kita tahan. Disita dari para pelaku delapan botol miras dan sebuah ruyung,” terangnya.
Operasi tersebut, lanjut Anny, serentak digelar di tiga wilayah yang menggelar pilkada. Sedang-kan wilayah yang tidak menga-dakan pilkada melakukan back-up personel. Dijelaskan, ope-rasi juga digelar di beberapa polres jajaran. “Di Polres Sleman disita sepeda motor blombongan sebanyak 16 unit. Di Bantul diketahui em-pat orang membawa senjata tajam, pipa besi panjang satu meter, pedang, dan peling,” ungkapnya.
Terpisah, Anggota Panwaslu Sleman Sutoto Jatmiko melihat adanya pelanggaran kampanye simpatisan PDIP, Gerindra, dan PKS selaku pengusung pasangan calon bupati-wakil bupati Yuni Satia Rahayu-Danang Wicak-sana Sulistyo. Yakni, masih banyaknya anak kecil yang diajak berkampanye dan peng-gunaan sepeda motor berknal-pot blombongan di kampanye yang diadakan di Lapangan Ganjuran, Condongcatur, Depok, Sleman.
Hanya, terkait knalpot yang masuk pelanggaran lalu lintas, panwas menyerahkan penanga-nannya pada polisi. “Semen-tara cuma itu catatan kami,” ujar Sutoto saat memantau kampanye di Lapangan Ganju-ran, kemarin.
Sampai menjelang petang, panwas belum menerima lapo-ran lain. Secara prinsip, panwas menerima setiap laporan du-gaan pelanggaran kampanye untuk bahan pelaporan dan evaluasi kepada penyelenggara pilkada, KPU Sleman. “Pelanggaran serupa juga ter-jadi saat kampanye pasangan Sri Purnomo-Sri Muslimatun seminggu lalu,” ungkapnya.
Sutoto berharap, setiap pa-sangan calon dan tim pengus-ung masing-masing meman-faatkan sisa waktu kampanye hingga sepekan ke depan dengan sebaik mungkin. Artinya, be-berapa hal yang diduga sebagai tindak pelanggaran kampanye harus dihindarkan
.Informasi terbaru, sempat ter-jadi kericuhan di Dusun Penen, Sendangadi, Mlati, Sleman se-hingga mengakibatkan satu orang terluka dan dua motor rusak. Korban sudah dirawat di RSA UGM. Kejadian bermula saat ada rombongan peserta kirab budaya yang berpapasan dengan massa kampanye. Di situ, lantas terjadi kericuhan. Saat ini kasus tersebut sudah dilaporkan ke kepolisian.

Pengendara Blombongan Tak Ditindak, Utamakan Penyitaan Sajam

Sementara itu, Polres Bantul memperketat penjagaan agen-da kampanye terbuka pasangan Suharsono-Abdul Halim Muslih (Suharsono-Halim). Sejumlah titik strategis yang dilewati massa pendukung menuju lokasi kam-panye terbuka, yaitu lapangan Ringinharjo dijaga ketat. Di an-taranya di simpang empat Dong-kelan, Druwo, dan di kawasan Pasar Seni Gabusan.
Alhasil, sejumlah benda keras yang di-bawa peserta kampanye seper-ti pentungan besi, kayu, dan paku berhasil diamankan.”Yang jelas ada pentungan besi, kayu dan paku yang kita amankan,” terang Kapolres Ban-tul AKBP Dadiyo, kemarin.Meski begitu, Dadiyo belum mengetahui berapa jumlah ben-da tumpul yang berhasil disita. “Teman-teman masih di lapangan. Nanti kita cek dulu,” ucapnya.
Dadiyo menyebutkan, seti-daknya ada seribu personel lebih yang diterjunkan dalam penga-manan kampanye terbuka kali ini. Selain dari polres dan polsek, tidak sedikit personel Brimob Polda DIJ yang ikut berjaga. Me-reka ditempatkan di sejumlah titik strategis yang dilewati kon-voi peserta kampanye yang sebagian besar mengendarai sepeda motor dengan knalpot blombongan itu.Dadiyo mengakui konvoi dengan knalpot blombongan melanggar aturan. Hanya, ke-polisian tidak menindak me-reka. “Kita memprioritaskan senjata tajam dulu,” jelasnya.
Dari pantauan, selain knalpot blombongan, tidak sedikit pula anak di bawah umur yang ikut kampanye. Bahkan, mereka turut dalam rombongan konvoi.Pasangan Suharsono-Halim diusung Partai Gerindra dan PKB serta didukung PKS. Namun demikian, mayoritas massa yang memadati lapangan Ringin-harjo saat kampanye terbuka justru beratribut PPP yang nota-bene mendukung pasangan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir. (riz/yog/zam/ila/jiong)