Oleh; Kusno S Utomo
Redaktur Senior Radar Jogja

Suksesi Pura Pakualaman (6)

SUKSESI kepemimpinan kem-bali menerpa Kadipaten Paku-alaman setelah KGPAA Paku Alam VI wafat. Adipati yang bertakhta paling singkat selama 14 bulan itu memiliki putra sulung dari garwa padmi (permaisuri) bernama BRMH Surtiyo
Namun dia telah meninggal saat mengambil studi di Be-landa dan dimakamkan di Negeri Kincir Angin tersebut. Sedang-kan putra lainnya atau adik Surtiyo, BRMH Surarjo sedang belajar di HBS di Semarang. Usianya kala itu baru 19 tahun.Muncul tiga calon yang dimun-gkinkan menjadi Paku Alam VII.
Pertama, BRMH Surarjo, putra Paku Alam VI dari permaisuri GKR Timur. Kedua, KPH Notodirojo, anak Paku Alam V atau adik Paku Alam VI dan ketiga, KPH Sasra-ningrat, putra Paku Alam III atau ayah Nyi Hadjar Dewantara.Menghadapi situasi itu, Pe-merintah Belanda kesulitan menentukan calon Paku Alam VII dalam waktu cepat. Sebetul-nya sebelum wafat, Paku Alam VI telah memberikan sinyal ingin langsung mengangkat BRMH Surarjo.
Tapi, Belanda tak mengizinkannya. Bahkan untuk mengisi kekosongan takhta di Pakualaman dibentuk se-buah Dewan Perwalian. Pembentukan Dewan Per walian itu mirip dengan pe ngalaman Keraton Ngayogyakarta Hadinin-grat pascawafatnya Sultan Ha-mengku Buwono III. Kala itu putra mahkota atau calon Ha-mengku Buwono IV masih be-rusia belia.
Belanda lantas mem-buat Dewan Perwalian dengan anggotanya antara lain Paku Alam I, Patih Danoeredjo, Pang-eran Diponegoro dan beberapa pangeran lainnya. Dewan Perwalian ini kembali terjadi di masa Hamengku Bu-wono V yang dinobatkan di usia sekitar lima tahun. Namun ke-jadian di Pakualaman sedikit berbeda. Belanda menunjuk KPH Sasraningrat, putra Paku Alam III sebagai pelaksana harian (Plh) untuk menjalankan pemerinta-han Kadipaten Pakualaman.
Penunjukan ini mengesankan Belanda seolah-olah dinasti Paku Alam III akan kembali ber-kuasa. Selain Sasraningrat, De-wan Perwalian itu juga berang-gotakan Asisten Residen Kulon-progo, sekretaris Residen Jogja-karta, dan KPH Notodirojo. Pembentukan Dewan Perwalian itu dilakukan di kediaman Residen Jogjakarta (sekarang Gedung Agung) pada 20 Agustus 1903 dan diberitahukan langsung kepada BRMH Surarjo.Namun dalam perkembanga-nya, Sasraningrat mengundur-kan diri. Dia menjadi Plh selama dua tahun. Tugas sebagai Plh kemudian dijalankan Notodi-rojo anak Paku Alam V atau adik Paku Alam VI atau paman dari Surarjo.Tugas pertama yang dilakukan dewan tersebut melakukan per-hitungan anggaran sehingga dapat diketahui pendapatan dan pengeluaran Kadipaten Paku-alaman.
Pembentukan Dewan Perwalian itu berjalan selama tiga tahun, 1903-1906. Selama kurun waktu tersebut takhta KadipatenPakualaman kosong. Ini juga sejarah pertama kalinya bagi kadipaten yang berdiri sejak 17 Maret 1813. Tampuk kekuasaan dijalankan Dewan Perwalian, meski calon yang ditunjuk almarhum Paku Alam VI se-benarnya telah ada, yakni BRMH Surarjo. (bersambung)