JOGJA – Masuknya ajaran agama Islam beberapa tahun silam ditengah masyarakat kampung Tambakrejo, Kota Semarang tidak serta merta membuat adat istiadat dan budaya setempat tersingkir. Sebaliknya, kedatangan agama islam memberikan warna tersendiri bagi kehidupan masyarakat setempat. Masyarakat masih bisa leluasa melakoni ritual budaya seperti selametan bayi dan orang meninggal, ziarah kubur hingga sedekahan. Di sisi lain, masyarakat dapat menjalankan ibadah keagamaan islam.
“Masyarakat kampung Tambakrejo dapat menjalankan budaya dan agama islam secara beriringan. Ini bukti bahwa tradisi turun menurun suku Jawa dapat menyatu dengan agama islam,” kata Agustinus Sugeng Priyanto saat ujian promosi doktor Program Studi Agama dan Lintas Budaya Pascasarjana UGM, kemarin.
Sebagai nelayan masyarakat kampung Tambakrejo dapat memanfaatkan laut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saat musim panen ikan mereka mencari ikan dengan giat. Sebaliknya, saat musim paceklik para nelayan mengandalkan hidup dengan cara mencari pinjaman kepada pedagang yang biasa mangkal di tempat pelelangan ikan (TPI).
“Kemiskinan yang terjadi di kampung Tambakrejo tidak mempengaruhi varian abangan atau santri. Tetapi, kemiskinan menjadi pola dalam tindakan-tindakan keagamaan. Agama dipratiknya sebagaimana adanya, agama dijalankan tanpa beban,” terang Agustinus.
Karena itu, dinamika masyarakat miskin kampung Tambakrejo perlu diteladani. Sebab, bagi mereka agama bukan lah candu sebagaimana masyarakat kapitalis. Agama merupakan sistem kepercayaan dan peribadatan yang digunakan dalam memperjuangkan untuk mengatasi persoalan-persoalan kehidupan manusia.
“Agama diletakkan bersama-sama dengan tradisi. Sanksi sosial menjadi paduan untuk mendorong warga kampung Tambakrejo merasa dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari yang lainnnya,” jelasnya. (mar/ong)