GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
ANTUSIAS: Seorang warga memasukkan surat suara saat menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada Kabupaten Bantul 2015 disaksikan petugas berkostum wayang di TPS 17, Sulang Kidul, Patalan, Jetis, Bantul, kemarin (9/12). Di TPS lain warga juga menunjukkan kreativitas dan kekompakannya.
Pilkada 2015 menjadi ajang pembuktian kapabilitas komisioner KPU Sleman. Terutama dalam mendongkrak partisipasi pemilih. Ketua KPU Ahmad Shidqi menargetkan tingkatpartisipasi 85 persen.
NAMUN, jika melihat pergerakan perhi-tungan ssuara hingga siang kemarin (9/12), target tersebut sepertinya bakal sulit ter-capai. Tudingan banyak pihak tentang pil-kada minim sosialisasi agaknya bisa jadi benar. Apalagi, para calon sendiri tak bisa mengoptimalkan jumlah pemilih di tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing. Setidaknya, itu berdasarkan pantauan Panwaslu Sleman.
Anggota Panwaslu Sutoto Jatmiko menilai tingkat partisipasi masya-rakat masih rendah. Bahkan, jika dibanding saat pemilihan legis-latif dan pemilihan presiden 2014. Kala itu, tingkat partisipasi mencapai 81,4 persen dan 81,7 persen. “Untuk pilkada sepertinya masih kurang dari 60 persen,” ungkapnya usai memantau proses pemu-ngutan suara.
Lebih ironis kondisi di TPS 4 Mancasan, Condongcatur, Depok,yang mayoritas penduduknya mapan secara ekonomi, ber-intelektual tinggi, dari kalangan pegawai dan pelajar/mahasiswa. Menurut Sutoto, tingkat partisipasi pemilih hanya 29 persen. “Saya kira itu akibat sosialisasi yang masih kurang,” tudingnya.
Sutoto menekankan agar proses pilkada 2015 menjadi bahan evaluasi penyelenggara pemilu. Terlebih, sosialisasi harus dilaku-kan jauh-jauh hari sebelum hari-H, dengan jangkauan medi lebih luas. “Kami juga ada beberapa temuan kekurangan dalam proses pilkada sebagai bahan laporan dan evaluasi,” ungkapnya.
Beberapa temuan diantaranya, nomor TPS yang tertular. Yakni, TPS 15 dan 16 di Kecamatan Ngaglik. Akibat nomor TPS ter-tukar, semua logistik dan surat suara juga tertukar. Padahal, saat itu warga masing-masing TPS telah berkumpul menunggu giliran untuk menggunakan hak pilih. Hal itu berdampak kekurangan surat suara sebanyak 57 lembar di dua TPS tersebut. “Ada juga surat suara belang-belang,” bebernya.
Anggota KPU Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Humas Indah Sri Wulandari berdalih telah berupaya maksimal untuk mendongkrak tingkat par-tisipasi pemilih sejak tahapan sosialisasi sampai hari-H pemungutan suara. “Kami telah minta KPPS mengumumkan dengan pengeras suara jika sampai pukul 11.00 jumlah pemilih kurang 50 persen,” katanya.
Kendati begitu, Indah mengakui beberapa wilayah tingkat partisipasi pemilih rendah. Seperti di Kalasan. Menurut Indah, partisipasi pemilih hanya 23 persen dari daftar pemilih tetap (DPT). Soal banyaknya kendala teknis di TPS, Indah tak menampiknya. Menurutnya, di Kalasan sempat terjadi kekurngan surat suara 23 lembar. Kendati begitu, dia meng-klaim pelaksanaan pilkada relatif aman dan lancar. (yog/din/ong)