SUDAH lima belas tahun warga Bantul berada dibawah kepemimpinan dinasti keluarga Idham Samawi. Kabar berakhirnya dinasti politik di Bumi Projo Tamansari disambut suka cita. Termasuk warga di Desa Baturetno, Banguntapan, Bantul yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng.
Saat pasangan Suharsono dan Halim Muslih berdasarkan perhitungan sementara unggul dari pasangan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir, mereka menyambutnya dengan potong gundul. “Selama lima belas tahun, warga miskin hanya untuk berobat saja susah. Kami seperti dianggap sebelah mata,” kata tokoh masyarakat di Pedukuhan Pelem, Baturetno Sukarban disela potong rambut, kemarin (10/12).
Karban, sapaan akrabnya, mengatakan, kemenangan Suharsono dan Halim merupakan tonggak dari perubahan di Bantul. Dia mengharapkan, kepemimpinan lima tahun ke depan membawa kesejahteraan bagi warga Bantul. “Kalau bisa, untuk berobat warga miskin jemput bola,” jelasnya.
Koordinator Pemenangan Suharsono-Halim Tingkat Desa Rustam Fatoni mengaku cukup terkejut dengan kemenangan Suharsono dan Halim. Karena, tiga hari sebelum pencoblosan, survei menunjukkan raihan suara pasangan nomor satu itu 27 persen. Sedangkan Ida-Munir unggul 33 persen. “Sisanya masa mengambang. Ternyata, masa mengambang ini cerdas. Mereka ingin perubahan,” tandas mantan Kepala Desa Jambidan, Banguntapan ini.
Dia mengungkapkan, dengan berakhirnya kepemimpinan lima belas tahun trah Samawi, bisa berdampak pada kinerja PNS. “Jika selama ini PNS di Bantul jadi penjilat, besok pasti ada reformasi birokrasi,” katanya.
Reformasi birokrasi itu, lanjut dia, akan otomatis menyejahterakan rakyat Bantul. Karena, mindset PNS tentunya berubah, mereka akan kembali pada tugasnya sebagai pelayan masyarakat. “Kita kawal reformasi birokrasi ini bisa terealisasi,” ungkapnya.
Terpisah, rasa syukur dan ucapan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan masyarakat disampaikan DPW PAN DIJ. Itu dikemukakan itu karena semua pasangan calon yang diusung partai berlambang matahari biru itu mendulang sukses.
Duet Badingah-Immawan Wahyudi masih dikehendaki rakyat memimpin Gunungkidul untuk periode 2015-2020 dan pasangan Sri Purnomo-Sri Muslimatun diberi amanat memimpin pembangunan Sleman lima tahun ke depan.
“Kami juga bersyukur atas terjadinya perubahan di Bantul,” ungkap Ketua DPW PAN DIJ Nazaruddin kemarin (10/12).
Dikatakan, meski secara resmi partainya tidak ikut mengusung dan mendukung pasangan calon, namun dinamika yang ada di Bantul perlu disyukuri. Rakyat Bantul sudah memberikan suaranya menghendaki perubahan. “Rakyat sudah jemu dengan hegemoni politik di Bantul. Pesan yang kuat ini harus direspons positif oleh partai-partai politik,” ujarnya.
PAN, lanjut dia, siap bersama partai-partai politik lainnya menjadi bagian dari perubahan demi mewujudkan Bantul yang lebih baik, sejahtera, maju dan bebas korupsi. Dengan berakhirnya dinasti politik, membuktikan masyarakat Bantul ingin maju.
“Kami siap untuk bekerjasama membangun Bantul bersih dari korupsi, dan menjadikan kabupaten yang menyejahterakan masyarakat,” katanya.
Nazar juga mengucapkan selamat kepada pasangan Suharsono-Abdul Halim Muslih atas kemenangan dalam Pemilukada Bantul. Apresiasi senada juga disampaikan kepada partai-partai pengusung dan pendukungnya, Partai Gerindra, PKB, dan PKS yang telah membuka pintu perubahan di Bantul.
“Minggu (13/12) lusa kami mengadakan syukuran atas terjadinya perubahan di Bantul. Kami akan menyembelih dua ekor sapi,” ucap Nazar.
Sebagai ketua partai, Nazar mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada kader dan simpatisan PAN di Sleman dan Gunungkidul atas kerja keras dan partisipasinya memenangkan pasangan Sri Purnomo-Sri Muslimatun dan Badingah-Immawan Wahyudi. “Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para partai koalisi di Sleman dan Gunungkidul yang telah berjuang dan berkeringat memenangkan pasangan calon yang diusung,” katanya.
Dengan niat membangun bersama Gunungkidul dan Sleman, PAN dengan tangan terbuka siap untuk bekerja sama dengan semua elemen masyarakat. Dia mengimbau agar semua tim sukses dan masyarakat pendukung calon pemenang tak jemawa. Sebab, kemenangan tersebut merupakan wujud amanat untuk bisa mengayomi pihak-pihak yang kalah. “Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan. Saatnya sekarang untuk bergandengan tangan,” ajaknya. (eri/ila/ong)