JOGJA – Dilintasi pertemuan dua lempeng benua dan dua samudera, Indonesia termasuk negeri yang rawan bencana. Namun kesadaran mengenai tanggap bencana masih minim. Oleh karena itu perlu upaya banyak pihak agar mengenalkan tanggap bencana sejak dini.
Hal ini salah satunya yang dilakukan oleh Japan Foundation Asia Center bekerja sama dengan Inisiatif Kanca Cilik (IKC) Indonesia melalui kegiatan Kidsaster. Kegiatan yang digelar di SD Pangudi Luhur Kota Jogja itu diikuti 60 anak dari 20 sekolah SD di Jogja, kemarin (16/12).
Salah seorang instruktur, Dhiptya Wijayanti, mengatakan, meskipun kegiatan itu bertujuan pada pengenalan simulasi bencana, tetap dalam bentuk permainan. Hal itu agar anak-anak antusias mengikuti dan menyerap pelatihan yang diberikan.
“Anak-anak diajari ketika terjadi bencana. Bencana-bencana seperti banjir, tanah longsor, erupsi, gempa, tsunami, kebakaran dan badai, serta pertolongan pertama kecelakaan kita masukkan dalam berbagai game,” katanya kepada Radar Jogja.
Misalnya saat terjadi banjir, mereka akan diminta membuat jembatan dari bahan-bahan yang disediakan. “Setelah itu, mereka akan melewati jembatan. Saat terjadi kebakaran, mereka kami ajari menggunakan alat pemadam api ringan (Apar),” terangnya.
Demikian juga saat ada badai, dibentuk simulasi badai dengan permainan bola diumpamakan efek angin. Mereka diminta berlindung dari pohon yang tidak mudah tumbang. Sedangkan saat gempa, mereka diajari bersembunyi di bawah meja. “Kalau sudah reda goyangannya, baru keluar ruangan,” imbuhnya.
Ia berharap setelah kegiatan ini anak-anak dapat memahami dan mengingat-ingat apa yang telah dipelajari. Sehingga saat terjadi bencana, mereka paham langkah-langkah yang akan dilakukan. “Termasuk mengedukasi temannya atau orang-orang terdekatnya. Apalagi Jogja kan termasuk daerah yang rawan,” tambahnya. (riz/laz/ong)