Restrukturisasi Keraton, Siapkan Putri dan Menantu
JOGJA– Sehari setelah dibacakanya sabda jejering raja, para rayi dalem belum bersikap. Selain masih dalam masa liburan Tahun Baru, mereka masih menunggu kehadiran saudara-saudaranya dari Jakarta. Rencananya dalam waktu dekat, akan digelar pertemuan adik-adik sultan atau 11 pangeran putra HB IX.

“Jelas kami menolak, dalam waktu dekat akan ada kumpul,” tulis GBPH Prabukusumo melalui layanan WhatsApp, kemarin (1/1).

Pria yang akrab disapa Gusti Prabu ini mengaku masih menunggu berkumpulnya saudara-saudaranya yang bermukim di luar Jogja. Ada enam saudara laki-laki Gusti Prabu yang tinggal di Jakarta. Mereka adalah GBPH Hadisuryo, GBPH Pakuningrat, GBPH Suryodiningrat, GBPH Suryometaram, GBPH Suryonegoro dan GBPH Hadinegoro.

GBPH Hadisuryo merupakan kakak lain ibu yang lahir dari garwa dalem KRAy Pintokopurnomo atau istri pertama HB IX. Sedangkan lima pangeran lainnya berstatus adik tiri lahir dari garwa dalem keempat HB IX, KRAy Tjiptomurti.

Rayi dalem yang bermukim di Jogja, selain Gusti Prabu adalah KGPH Hadiwinoto, GBPH Yudhaningrat, GBPH Condrodiningrat, dan GBPH Cakraningrat. Bersama GBPH Yudhaningrat dan GBPH Condrodiningrat, Gusti Prabu merupakan saudara kandung. Ketiganya merupakan putra HB IX dari garwa dalem keempat KRAy Hastungkoro.

Ada pun KGPH Hadiwinoto merupakan pangeran dari garwa dalem kedua KRAy Windyaningrum atau adik kandung sultan yang sekarang bertakhta. Sedangkan GBPH Cakraningrat merupakan putra dari KRAy Tjiptomurti.

Saat disinggung ancaman dipecat dari kedudukannya, dan harus keluar dari Bumi Mataram, bagi yang tidak patuh, Gusti Prabu menjawab sambil bercanda, “Sekarang lagi sibuk cari kontrakan ini. ”
Terpisah, Dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Bayu Dardias Kurniawan menilai sabda jejering raja, merupakan sabda khusus. Perintah raja itu ditujukan kepada rayi-rayi dalem yang selama ini keras menentang sabdaraja dan dawuhraja.

“Lebih spesifik, diperutukkan bagi adik-adik sultan,” ujar Bayu saat dihubungi via telepon kemarin. Menurut dia, sabda jejering raja merupakan upaya HB Ka 10 melakukan restrukturisasi internal keraton.

Meski menjadi raja, tapi secara de facto, adik-adik sultan masih menonjol menjalankan kegiatan di internal keraton. Kondisi itu dinilai bisa menghambat langkah putri sulungnya, GKR Mangkubumi menjadi raja.

Saat ini beberapa posisi penting di keraton didominasi adik-adik sultan. Misalnya, penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Wahana Sarta Kriya Keraton Jogja dijabat KGPH Hadiwinoto.

Lalu GBPH Prabukusumo menjadi pengageng KHP Widyo Budoyo lan Pustaka, dan GBPH Yudhaningrat yang menjabat pengageng KHP Kridha Mardawa sekaligus manggalayudha prajurit atau panglima perang Keraton Jogja.

Satu-satunya jabatan yang sudah dipegang putri HB Ka 10 hanya penghageng KHP Panitraputra. Posisi itu dijabat GKR Condrokirono, menggantikan pamannya, GBPH Joyokusumo yang meninggal 1 Januari 2014.

“Bisa dilihat sendiri kan, saat ada urusan pertanahan Gusti Hadi (KGPH Hadiwinoto) yang muncul. Ketika malam 1 Sura giliran Gusti Prabu (GBPH Prabukusumo) yang tampil. Ketika upacara garebeg, gantian Gusti Yudha (GBPH Yudhaningrat) yang memimpin. Secara de facto masih adik-adik sultan yang pegang,” terangnya.

Dengan dikeluarkannya sabda jejering raja yang juga berisi ancaman pemecatan bagi mereka yang membangkang, Bayu menilai itu sebagai upaya mengganti posisi adik-adik sultan dengan sejumlah putri dan menantunya. “Sekarang kan beberapa putrinya juga sudah menjadi wakil penghageng,” tuturnya.

Bayu yang sedang meneliti politik bangsawan di Indonesia menambahkan, ancaman raja Keraton Jogja tersebut sudah sangat keras. Mungkin, lanjut Bayu, HB Ka 10 merasa sudah sulit mengajak dan merangkul adik-adiknya. Sebab, mereka masih menolak tampilnya GKR Mangkubumi menjadi raja perempuan di Keraton Jogja.

Karena itu, HB Ka 10 memutuskan mengambil langkah politis. “Saya kira sabda itu sebagai upaya bersih-bersih di keraton,” ujar Bayu yang kemarin juga tampak di Keraton Jogja.

Upaya memuluskan langkah GKR Mangkubumi, jelas Bayu, juga sudah bisa dibaca dengan mengangkat tiga pangeran baru. Yakni KPH Pujaningrat, KPH Suryohadiningrat, dan KPH Yudhahadiningrat. Saat ini mereka sudah menjadi wakil penghageng di sejumlah jabatan strategis.

“Yang terancam tidak hanya rayi dalem. Tapi juga sentana dalem yang selama ini keras, termasuk Romo Tirun (KRT Jatiningrat),” ucapnya.(pra/kus/jko/ong)