Hendri Utomo/Radar Jogja
BERSEJARAH: Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat meresmikan Jembatan Duwet di Pedukuhan Salam, Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo, kemarin.

KULONPROGO – Kemeriahan puncak perayaan tahun baru 2016 di Kulonprogo salah satunya tersimak di Jembatan Duwet, Banjarharjo, Kalibawang. Pemkab sengaja meresmikan jembatan yang memiliki nilai historis tinggi itu di malam tahun baru dengan tujuan mempromosikannya sebagai destinasi wisata baru di Kulonprogo.

Jembatan Duwet merupakan jembatan gantung yang melintasi atas Sungai Progo di antara dua tebing curam di bawahnya. Selama ini jembatan peninggalan kolonial Belanda itu hanya boleh dilalui kendaraan roda dua ataupun pejalan kaki. Jembatan itu merupakan jalan pintas, baik dari arah Kalibawang atau Borobudur menuju Sleman melalui Blaburan.

“Ini jembatan yang memiliki nilai dan manfaat yang besar. Jembatan ini memiliki nilai historis yang tinggi bahkan menjadi salah satu kekayaan haritage di DIJ, jembatan ini juga sangat dibutuhkan masyarakat karena menghubungkan beberapa daerah,” terang Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat meresmikan jembatan Duwet (31/12).

Selain peresmian jembatan itu, juga dilaksanakan pelantikan Dewan Kebudayaan Kulonprogo, pengukuhan Forum Komunikasi Desa Wisata Kulonprogo dan pengukuhan Forum Kelompok Sadar Wisata Kulonprogo yang dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

“Pembentukan dewan kebudayaan Kulonprogo sangatlah penting, karena kita satu-satunya kabupaten yang terbilang paling cepat membentuk Dinas Kebudayaan secara khusus. Mengingat dengan Perda Istimewa kita harus membangun budaya lebih maju, menyerap anggaran lebih baik untuk kemajuan Kulonprogo,” imbuh Hasto.

Pada bagian lain Hasto menegaskan, momen pergantian tahun bisa dimanfaatkan untuk refleksi diri, bersyukur dengan program-program fisik yang telah selesai tepat waktu, dan terus berpikir bagaimana meningkatkan kualitasnya. Sejauh ini, sudah banyak pembangunan fisik, ke depan juga harus dipikirkan tentang membangun nilai.

“Jadi marilah, hadapi tahun baru ini dengan mengheningkan cipta, merefleksi diri, menyusun kekutan serta menyesali hal-hal yang dinilai masih kurang, bentuk energi baru untuk menyambut tahun 2016, dan tidak perlu boros-borosan untuk memperingati pergantian tahun ini,” tegasnya.

Kabid Kebudayaan Kulonprogo Joko Mursito menjelaskan, menurut sejarah jembatan Duwet dulu difungsikan sebagai sarana inpeksi kebun kopi oleh pemerintah kolonial Belanda di wilayah Kalibawang. Namun tahun 1948-1949 jembatan sempat diruntuhkan oleh para pejuang dan masyarakat Kalibawang dengan tujuan agar tentara Belanda tidak mampu menginvasi wilayah Kalibawang.

“Seiring berjalannya waktu tahun 1958 jembatan gantung ini dibangun kembali oleh pemeirntah dan diresmikan oleh Sri Sultan HB IX tahun 1960. Kemudian ditetapkan sebagai salah stau cagar budaya pada tahun 2008 oleh pemerintah DIJ, dan pada tahun 2015 ini sempat direhab melalui Dana Kesitimewaan (Danais) senilai Rp 2,3 miliar,” jelasnya.

Persemian Jembatan Duwet tidak hanya dihadiri Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, tetapi juga Wabup Sutedjo, Forkompimda Kulonprogo, jajaran SKPD terkait, bahkan dari perwakilan pejabat pemerintah Magelang dan Sleman. Acara tahun baru di jembatan Duwet sarat dengan kenangan sejarah dan nilai kebudayaan, masyarakat ikut merasakan kemeriahan tahun baru hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk selesai. (tom/laz/ong)