JOGJA – Perayaan Tahun Baru 2016 tidak hanya ditandai dengan larisnya penjualan terompet dan jagung bakar. Namun ada fenomena lain, alat kontrasepsi jenis kondom dan minuman keras (keras) juga diburu warga pada malam jelang pergantian tahun, Kamis (31/12).

Menurut petugas salah satu apotek di Jalan Kaliurang, Sleman, Lisna, 29, mengatakan, terjadi lonjakan pembelian kondom oleh warga hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Lonjakan ini, ujarnya, kerap terjadi menjelang malam pergantian tahun. Dia pun tak menampik apabila kemungkinan bisa terjual hingga lebih dari 30 kotak. “Ada peningkatan. Bisa dua kali lipat dari hari biasa,” tandasnya.

Meski demikian, tempatnya bekerja tidak menambah stok kondom. Apotek di dekat perempatan ringroad itu hanya menghabiskan sisa stok yang ada. “Stok masih banyak, jadi tidak mungkin kehabisan. Menghabiskan yang ada saja,” terangnya.

Kondisi serupa juga terjadi di minimarket di Jalan Kaliurang Km 9, Sleman. Rubi, 26, salah satu penjaga dengan gamblang membeberkan sudah ada tren peningkatan kondom sejak Jumat (25/12) lalu.

“Lebih kalau cuma 20 kotak. Kita sedia macam-macam merek. Lebih disukai yang warna warni,” ujarnya kepada Radar Jogja, kemarin.

Untuk pembelinya, dia mengatakan banyak didominasi anak muda dan ada beberapa orang dewasa. Menurutnya, di minimarket bisa lebih bebas daripada di apotek karena tinggal ambil sendiri terus membayar. Sedangkan mengenai stok beberapa hari ini memang sempat ada penambahan. Terlihat di etalase tersebut masih banyak kondom dari berbagai merek dan jenis. “Datangnya pagi, langsung di-display. Tinggal yang ada itu saja,” ungkapnya.

Tak hanya di Kaliurang, salah satu toko berjejaring di Condongcatur, juga ikut menambah stok. Daniel, petugas toko tersebut mengatakan, seperti yang sudah-sudah jika pada malam tahun baru memang mengalami peningkatan. “Banyak yang cari, mungkin pasangan yang lagi bulan madu. Setelah jam 12 bisa lebih banyak yang cari,” ujarnya.

Malam tahun baru kerap dijadikan sebagai ajang pesta remaja. Tak jarang pula menjadikan momen tersebut melakukan hubungan lawan jenis oleh para muda-mudi. Menurut Manajer Pendampingan Rifka Anisa Lisa Oktavia mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan mulai meningkatnya perilaku seksual berisiko di kalangan remaja. Karena itu, orang tua dituntut untuk paham mengenai kesehatan reproduksi. Sehingga bisa menjelaskan pada anaknya mengenai alat reproduksi, agar tidak merayakan dengan orang yang salah.

“Apalagi teknologi dan gadget semakin canggih, jika tidak ada pendekatan dari orang tua maka akan mudah terpengaruh,” katanya kepada Radar Jogja, kemarin.

Selain itu, dia menambahkan, lingkungan pergaulan juga cukup mempengaruhi. Orang tua perlu tahu dan paham teman-teman putra-putrinya. Sehingga tahu pola pergaulan dan apa yang sedang dikerjakan. Di samping itu, mengenai penggunaan alat kontrasepsi juga perlu dilakukan kontrol. Yakni tidak sembarang orang dapat mengakses kondom seperti saat ini.

“Ada mekanisme kontrol penggunaan alat kontrasepsi tentang usia minimum pengguna atau status pernikahan,” ujarnya.

Dia mencontohkan, agar menghindari kegiatan berhura-hura dan mengarah pada perilaku seksual, ada baiknya dalam setiap komunitas atau keluarga mengadakan kegiatan yang positif di malam pergantian tahun. “Agar kegiatan dan aktivitas dapat terpantau,” tandasnya. (riz/ila/ong)