RYZA/Radar Jogja
PEDULI: Para jamaah Ahmadiyah saat gotong-royong membersihkan Titik Nol Kilometer Jogjakarta , kemarin (1/1). Kegiatan ini untuk membersihkan sampah pasca perayaan malam tahun baru.

JOGJA – Malam tahun baru kemarin, menjadi sejarah baru Malioboro. Uji coba pedestrian Malioboro berjalan lancar. Namun dampak dari uji coba tersebut, sampah berserakan di mana-mana, sementara taman rusak akibat terinjak-injak.

Seperti sudah menjadi kebiasaan manusia, membuang sampah sembarangan. Begitu pun di Jogja yang katanya istimewa. Meski sudah disediakan tempat sampah, tetap tak digunakan.

Ini yang terjadi kala perayaan malam tahun baru di Malioboro. Tambahan tempat sampah agar pengunjung ikon wisata itu menjaga kebersihan Malioboro, tak berguna. Pasca malam tahun baru, ditemukan sampah berserakan di mana-mana.

Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Malioboro Syarif Teguh mengakui, tambahan sampah sudah menjadi otomatis seiring bertambahnya pengunjung Malioboro. Ini terjadi setiap ada acara di jantung Kota Jogja tersebut. “Memang sulit untuk mengatur orang sedemikian banyaknya,” ujar Syarif, kemarin (1/1).

Mantan lurah di Kelurahan Suryatmajan ini menegaskan, saking banyaknya manusia yang berada di Malioboro, sehingga sulit diatur. Jika pun dipaksakan, pihaknya harus terus berulang kali mengingatkan. Baik dengan teguran langsung maupun toa yang terpasang di sepanjang garis imajiner Keraton itu.

“Selain sampah, taman di sisi selatan rusak akibat terinjak-injak. Segera kami perbaiki,” tandas Syarif.

Malam tahun baru kemarin, awal dari uji coba Malioboro pedestrian. Seluruh kendaraan bermotor terlarang masuk di Malioboro. Yang bisa masuk hanya pejalan kaki, pesepeda, dan kendaraan tradisional.

Soal evaluasi dari uji coba tersebut, Syarif mengatakan, cukup baik secara kenyamanan dan keamanan. Hanya saja, mengingat malam tahun baru menyedot ribuan pengunjung, sehingga menjadi catatan tersendiri. Yakni, suasananya yang menjadi penuh sesak.

“Tapi ada yang membanggakan. Ternyata pengunjung antusias untuk berjalan kaki menikmati Malioboro,” ujarnya.

Hal tersebut, sambung dia, menjadi sinyal positif untuk penataan Malioboro ke depan. Apalagi, mulai tahun ini parkir sepeda motor di sisi timur Malioboro juga bakal dipindahkan ke Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali. “Saya kira untuk parkir bakal dievaluasi bersama dengan komunitas,” tambahnya.

Ketua Paguyuban Parkir Yogyakarta Hanarto memastikan, ujicoba parkir di TKP ABA berlangsung lancar. Pihaknya cukup antusias untuk bisa segera pindah di TKP ABA. Hanya saja, memang itu perlu komunikasi intensif dengan semua juru parkir di Malioboro.

“Selama ini kami selalu siap mendukung program dari pemerintah. Asalkan, itu untuk penataan. Artinya, bukan menggusur kami untuk tidak memiliki lagi tempat bekerja,” imbuhnya.

Pihaknya, bakal merealisasikan rencana pemkot tersebut asalkan tetap dijamin mata pencaharian selama ini. Tetap bisa mengais recehan dari parkir di Malioboro.

Pada bagian lain, pemuda Ahmadiyah menggelar wiqari’amal atau gotong royong membersihkan sampah di kawasan Malioboro, tepatnya sekitar Titik Nol Kilometer, kemarin (1/1). Gerakan Clean The City 2016 tersebut dimulai pukul 05.00 pagi.

“Kami sengaja mengadakan kegiatan ini, yakni berupa pembersihan sampah pasca perayaan pergantian tahun,” kata Ketua Jamaah Ahmadiyah Jogja Ir. A Saifudin Mutaqi, MT kemarin (1/1).

Dijelaskan, wiqari’amal itu merupakan istilah Ahmadiyah untuk kegiatan gotong royong, kerja bakti atau berbersih. “Tapi kalau istilah sekarangnya ya Clear The City,” tandasnya
Awal mula kegiatan ini digagas oleh Humanity First Indonesia dengan menggandeng Majelis Khudamul Ahmadiyah Indonesia (MKAI). Clean The City pertama kali diadakan 2015, dengan membersihkan tugu Monas Jakarta. Kegiatan ini berdampak positif, Monas yang berserakan sampah pasca perayaan pergantian tahun, bisa bersih kembali.

“Penggagas kegiatan ini setahun yang lalu Humanity First Indonesia, dan tahun ini kegiatan ini d adopsi oleh Majelis Khudamul Ahmadiyah Indonesia (MKAI) setelah berkordinasi terlebihdahulu denga Humanity First Indonesia,”, sloroh Risky selaku kordinator lapangan kegiatan ini.

Risky menuturkan, kegiatan Clean The City dilaksanakan untuk menggugah kesadaran masyarakat akan kebersihan dan menumbuhkan kepedualian kebersihan sebagai wujud keyakinan kepada Islam yang indah dan bersih.

Sampah memang menjadi momok dalam setiap kali perayaan pergantian tahun. Kegiatan ini cukup efektif, kurang lebih 60 ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Para petugas pembersih jalan mengakui adanya kegiatan ini sangat meringankan pekerjaan meraka. “Semoga gerakan ini bisa menginspirasi banyak orang dan akan kami jadikan program rutin gerakan nasional di awal tahun baru,” tambah Risky. (eri/mg2/jko/ong)