JELASKAN: KHP Panitrapura Keraton Jogja GKR Condrokirono saat menyambut rombongan keluarga Wapres Jusuf Kalla di Keraton Jogja, kemarin (3/1).
JOGJA – Polemik terkait sabda jejering raja tam-paknya akan mendapatkan titik terang. Pasalnya, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Panitrapura Keraton Jogja Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono ditunjuk untuk menjelaskan secara lengkap isi dan makna sabda jejering raja yang dikeluarkan HB Ka 10 pada 31 Desember 2015 lalu.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu menantu HB Ka 10, KPH Purbodiningrat. Dia menjelaskan, kakak iparnya, Condrokirono kemungkinan yang memberikan penjelasan resmi yang bakal di-lakukan dalam waktu dekat. “Minggu depan akan disampaikan. Pengertian minggu depan itu bisa juga dilakukan Senin besok (hari ini). Nanti yang akan menyampaikan Gusti Condro atau yang lainnya,” ungkap Purbodining-rat ditemui di sela acara penyambutan kunju ngan Wapres Jusuf Kalla (JK) di Keraton Jogjakarta, kemarin (3/1)
Meski telah memastikan alo-kasi waktunya, suami GKR Ma-duretno ini tidak bersedia men-jelaskan materi yang akan disam-paikan. Demikian pula me-nyangkut tempat yang akan dipilih untuk menjelaskan sabda keempat mertuanya yang dikeluarkan sepanjang 2015 ini. “Nanti tempatnya akan diberi-tahukan,” kilahnya.

Sepanjang 2015, HB Ka 10 mengeluarkan sabda hingga em-pat kali. Tiap sabda memiliki nama khusus. Sabda atau perin-tah pertama dikeluarkan 6 Maret 2015. Saat itu raja yang ber takhta sejak 7 Maret 1989 masih meng-gunakan nama dan gelar Sultan Hamengku Buwono X.

Sabdatama ini berisi enam hal. Fokus dari sabdatama ini adalah peringatan sultan menyangkut suksesi dan calon penggantinya yang sepenuhnya menjadi we-wenang raja. Lokasi sabdatama ini dilakukan di Bangsal Ken-cana, Keraton Jogja. “Marang sapa wae kang uwis kaparingan kalenggahan, ma-nut karo raja sing maringi kalenggahan (barang siapa yang sudah diberikan jabatan, harus mengikuti perintah Raja yang memberikan jabatan),” ucap HB X kala itu.

Sedangkan perintah kedua bernama sabdaraja dikeluar-kan 30 April 2015. Isinya ten-tang perubahan nama dan gelar sultan dari Hamengku Buwono X menjadi Hameng-ku Bawono Ka 10. Sultan juga tidak lagi menggunakan gelar khalifatullah.

Perintah ketiga disampaikan pada 5 Mei 2015. Materinya soal pengangkatan GKR Pem-bayun menjadi GKR Mangku-bumi. Nama perintah raja yang ketiga ini adalah dawuhraja. Baik sabdaraja maupun dawuhraja tidak dilakukan di Bangsal Ken-cana, tapi di Bangsal Sitihinggil. Acara diadakan tertutup dan terbatas abdi dalem dan kerabat keraton. HB Ka 10 mengenakan busana raja saat dinobatkan sebagai putra mahkota ke mudian menjadi sultan 26 tahun lalu di tempat yang sama.Sedangkan perintah keempat bernama sabda jejering raja 31 Desember 2015. Lokasinya ma-sih di Bangsal Sitihinggil. Isinya lebih keras. Peringatan sultan kepada adik-adiknya agar tetap loyal dengan perintahnya. Bagi yang membangkang terancam dicopot dari kedudukannya dan diusir dari Bumi Mataram.

Sementara itu, kunjungan ke Keraton Jogja menutup rang-kaian kegiatan Wakil Presiden dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla bersama keluarga berlibur di Jogja. Keluarga Jusuf Kalla me-lakukan liburan akhir tahun sejak 31 Desember 2015. Wapres bersama istri tiba di kompleks keraton sekitar pukul 09.00 Keduanya datang bersama rombongan dengan mengguna-kan tiga bus dan sejumlah mo-bil. “Ada 200 orang. Rombong an Wapres diterima di Tratag Bangsal Kencana karena kalau di Gedong Jene nggak cukup,” ungkap seorang abdi dalem keraton, kemarin (3/1).

Saat memasuki Regol Sri Ma-nganti, Sultan Hamengku Bawono Ka 10 didampingi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas menyambut kedatangan orang nomor dua di republik ini. Tampak pula ikut menyertai HB Ka 10, tiga putri dan menantu. Mereka adalah GKR Condrokirono, GKR Madu-retno dan suami KPH Purbo-diningrat. Serta GKR Bendara bersama suami KPH Yudho-negoro yang terlihat meng-gendong anaknya. Sedangkan putri sulung HB Ka 10, GKR Mangkubumi dan su-aminya KPH Wironegoro hingga kunjungan Wapres selesai tak terlihat. Demikian pula dengan rayi-rayi dalem atau adik-adik sultan tak ada satu pun yang tampak.

Padahal selama ini adik-adik sultan seperti KGPH Hadi winoto, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudhaningrat, dan GBPH Cakra-ningrat rajin ikut menyambut setiap tamu penting yang datang ke keraton. Praktis selama Wapres dan keluarganya mengunjungi keraton, HB Ka 10 hanya di-dampingi permaisuri dan tiga putri serta menantu.Setelah berkeliling mengunjungi Museum HB IX, dan melihat aneka koleksi keraton seperti keramik, batik dan lainnya, rom-bongan Wapres dijamu makanan ringan dan minuman di tratag Bangsal Proboyekso.

Selanjutnya, sekitar pukul 10.00, Wapres, Ibu Mufidah, dan rombongan me-ninggalkan keraton. Mereka bertolak kembali ke Jakarta dengan menggunakan kereta wisata dari Stasiun Tugu Jogja. HB Ka 10 dan GKR Hemas ikut mengantar dengan menum-pang satu bus bersama Jusuf Kalla dan istri. “Sebelum berpamitan Ibu Mufidah memberikan cende-ramata kepada GKR Hemas. Dari keraton memberikan kenang-kenangan bunga dan buku sejarah tentang keraton,” kata Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Pani trapura Keraton Jogja Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono. (kus/ila/ong)