GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SANGAT PADAT: Kepadatan pengunjung di sekitar perempatan Tugu Jogja pada malam tahun baru (31/12) lalu. Banyaknya kunjungan yang mengisi liburan di kawasan perkotaan Jogja, membuat arus lalu lintas macet di sana sini. Kondisi itu diperparah, tidak dimanfaatkannya jalur alternatif yang telah disiapkan aparat.

Sudah menjadi biasa, setiap akhir tahun, di sekitar tempat-tempat pariwisata terjadi kemacetan. Namun tahun ini dirasa lebih parah. Terlebih khusus wilayah perkotaan Jogjakarta. Itu bisa terjadi karena jumlah kunjungan wisatawan hampir di seluruh daerah di DIJ mengalami peningkatan, dari pada tahun lalu. Yang membuat lebih parah, jalan-jalan alternatif yang sudah disiapkan, tidak dimanfaatkan wisatawan.
AKUN Facebook Khusnul Tuban Jatim tiba-tiba menjadi hits pada libur Natal 2015 lalu. Gara-garanya, dia menghina Jogja dengan sebutan ‘Kota Entut’. Di luar se butan pada Kota Jogja yang tidak pantas tersebut, Khusnul juga mengeluhkan kondisi Jogja yang macet saat liburan. “Ono mobil, ono becak, ono dokar, ono pe-jalan kaki, ono sepeda motor, dll, nublek blek dadi siji ORA TERTOTO RAPI BLASSSS (Ada mobil, ada becak, ada delman, ada pejalan kaki, ada sepeda motor, dll, tumpah ruah jadi satu. Tidak tertata rapi sama sekali),” tulisnya.

Sebenarnya keluhan Khusnul tersebut, juga dirasakan banyak wisatawan yang se-dang berlibur ke Jogja pada Natal dan akhir tahun
Banyaknya wistawan yang da-tang dengan kendaraan pribadi, membuat volume kendaraan yang lewat di jalanan Jogja ber-tambah. Pada hal selama ini, Jogja belum membangun ke-siapan infrastruktur lainnya, sehingga jadilah kemacetan di jalanan Jogja.Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sigit Haryanta mengakui peningkatan volume kendaraan yang berlibur ke DIJ, selama libur Natal dan akhir tahun ini.

Menurut dia, Dishub DIJ sudah berusaha mengurai kepadatan dengan melakukan pengatur traffic light. Lama nyala lampu hijau ditambah 40 detik untuk simpang-simpang yang mengalami kepadatan. “Di Ring Road pengaturan tra-ffic light bisa mengurai, tapi kalau terlalu padat, petugas ke-polisian akan mengatur secara manual,” terang Sigit.

Kepadatan lalu lintas selama liburan ini, lanjut Sigit, akan menjadi bahan evaluasi bagi Dishub DIJ. Mantan Kepala Biro Umum Humas dan Pro tokol Setprov DIJ tersebut mencon-tohkan, semisal pengaturan jalan di sekitar Malioboro. Menurut dia, saat liburan lalu, beban di Malioboro sangat-sangat padat. Untuk itu, pihaknya akan mengevaluasi jalan-jalan di sekitar Malioboro, termasuk untuk jalan akses parkir. ” Kemarin itu, pengunjung yang mau par-kir ke Ramai Mall, lewat Malio-boro. Harusnya kan bisa lewat barat,” ungkapnya.

Kemudian ada rencana Guber-nur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X yang akan me-manfaatkan bekas gedung kam-pus UPN di Ketandan, sebagai lahan parkir. Itu akan dibuat jalan masuk melalui arah timur atau dari Jalan Suryatmajan. ” Sehingga kelak, tidak harus se-mua masuk Malioboro,” ujarnya.

Jalur alternatif memang men-jadi salah satu solusi menga-tasi kepadatan lalu lintas di jalur utama. Tapi sayangnya, tidak semua pengendara tahu dan mau melewati jalur alternatif tersebut. Seperti di jalur Jogja-Wonosari menjadi salah satu koridor yang mengalami kepa-datan tinggi sejak H-1 Libur Natal 24 Desember 2015 lalu. Di Pos Piyungan kepadatan di jalur keluar menuju kabupaten Gunungkidul mencapai 17.824 kendaraan pada hari H dan naik menjadi 19.320 kendaraan se-hari setelah Natal.

Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub DIJ Harry Agustriono mengatakan, pihaknya sudah memberikan berbagai rambu untuk menggunakan jalur alter-natif. Namun pilihan itu rupanya tak banyak digunakan oleh peng-guna jalan raya. Untuk ke Baron misalnya, ada jalur alternatif lewat Panggang. “Dari Parang-tritis hanya tiga kilo yang belum dilebarkan, sisanya langsung bertemu JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan),” jelasnya.

Sebenarnya, jelas Harry, jalur tersebut jauh lebih nyaman ke-timbang menggunakan jalur konvensional, karena ruas jalan yang tak terlalu ramai dan re latif landai. Kondisi itu berbeda dengan jalur utama Jogja-Wono-sari yang berkelok.

Selain jalur JJLS, Dishub DIJ juga sudah menyiapkan sejum-lah jalur alternatif lain untuk menuju ke berbagai lokasi wi-sata. Namun kondisi jalur alter-natif menuju area lokasi wisata lainnya mengalami nasib seru-pa. “Sayangnya jalur-jalur ini belum banyak digunakan, mung-kin khawatir karena belum familiar dengan jalannya,” terangnya.Pada bagian lain, musim libu-ran dimanfatkan sebagian warga untuk meraup untung. Utmanya soal tariff parkir. Di Taman Par-kir Sriwedani misalnya. Jalan yang kini menjadi tempat khusus par-kir ini menggunakan sistem pro-gresif. Pada dua jam awal di karcisnya tertera Rp 2 ribu. “Tapi ditarik Rp 3 ribu, itu pun tak boleh lebih dari dua jam,” keluh Haris, salah seorang war-ga Sleman yang mengaku mengantarkan sanak saudaranya ke Taman Pintar, ditemui akhir pekan lalu.

Tak hanya soal tarif, dari pan-tauan Radar Jogja parkir mobil di sekitar Keraton sangat sem-rawut. Tempat jalan umum yang diperuntukkan untuk lalu lalang kendaraan menjadi tempat par-kir. Padahal, banyak wisatawan menggunakan mobil berpelat luar masuk ke kawasan Keraton.Di akses menuju sentral budaya Jawa itu pun macet total. Ken-daraan terjebak macet karena tak ada petugas baik dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja maupun Polresta. “Sudah dari jam 9 tadi tidak bisa masuk,” ujar salah seorang wisatawan berpelat Sidoarjo ini.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja Rifki Listianto memper-tanyakan manajemen pariwisata dari pemkot. Sebagai tujuan pari-wisata, seharusnya pemkot sudah menyiapkan langkah antisipatif jauh-jauh hari. “Penertiban parkir, sosialisasi kepada stake holder pariwisata harus terus menerus dilakukan,” tandas Rifki.Apalagi, lanjut Rifki, Kota Jogja telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) No 3 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pe-ngelolaan Pariwisata Daerah. “Sebenarnya tinggal menyosia-lisasikan apa peran masyarakat di RIPPDA tersebut,” tuturnya.

Rasa handarbeni sebagai salah satu dari visi RIPPDA sama se-kali tak terlihat. Saat Jogja penuh dengan wisatawan, pelaku pa-riwisata malah seenaknya. Tanpa mempedulikan kenya-manan dari wisatawan. “Di Pasal 4, asas pembangunan kepariwisataan daerah meliputi: a. mewujudkan pembangunan kepariwisataan yang berkela-njutan, bersumber pada budaya Kreaton Ngayogyakarta Hadinin-grat dan pelestarian cagar budaya; b. menanamkan di seluruh masyarakat nilai-nilai sadar wisata yang berlandaskan pada Sapta Pesona yaitu Aman, Ter-tib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah Tamah dan Kenangan. Itu sudah sangat jelas,” kata mantan pim-pinan Panitia Khusus (Pansus) RIPPDA ini.

Ia mengusulkan, dibentuk se-perti satuan tugas di masing-masing destinasi untuk menjaga ketertiban. Agar, wisatawan saat merasakan ketidaknyamanan akibat ulah nakal oknum jukir atau yang lain bisa dengan cepat melapor. “Itu bisa dari perwaki-lan masyarakat dan aparatur yang berwenang. Sehingga, setiap ada keluhan bisa cepat ditangani,” katanya. (pra/eri/jko/ong)