KULONPROGO – Wakil Presiden Jusuf Kalla meninjau lokasi calon bandara inter-nasional di Kecamatan Temon, Kulon progo, kemarin (2/1). Inspeksi itu untuk memas-tikan progres pembangunan New Yogya-karta Intenasional Airport (NYI A) sebagai pengganti bandara Adisutjipto yang dinilai sudah terlalu padat.Rombongan JK, panggilan akrabnya, tiba di Radar Congot Temon, Kulonprogo, sekitar pukul 12.00 WIB
JK nampak didampingi Men-teri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, Menpan Yuddy Chrysnandi, Menkoinfo Rudi Antara, dan Direktur PT Angkasa Pura I Paulina.Nampak pula dalam kunjung-an, Gubernur DIJ Sri Sultan HB X, Danrem 072/Pamungkas Brigjen Stefanus Tri Mulyono, Bupati Kulonprogo Hasto War-doyo, dan Sekda Kulonprogo Astungkoro.

Wapres sempat mendengarkan pemaparan dari Angkasa Pura terkait rencana pembangunan bandara, kesiapan moda trans-porasi kereta api, serta kesiapan infrastruktur pendukung lainnya. Termasuk hasil pengukuran lahan bandara, dan rencana pembebasan lahan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).Usai mendengarkan pemapa-ran, JK tampak senang. “Insyaallah tahun ini sudah dimulai, tadi dilaporkan target-nya Mei 2016 sudah selesai ma-salah lahan, sekaligus desainnya. Sehingga tahun 2019-2020 sudah bisa beroperasi,” katanya di area Sat Radar Congot, kemarin.

JK menambahkan, Gubernur DIJ dan AP I sudah berupaya maksimal untuk mewujudkan bandara internasional di Kulon-progo ini. Terkait investasi, kata JK, sistemnya akan diara-hkan ke BUMN. “Infarsturktur pendukung, seperti jalan, rel kereta api akan terintegrasi, dan secepatnya dikerjakan dengan target yang sudah ada, termasuk calon tenaga kerja juga dilatih,” ucapnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) Jogja-karta Rani Sjamsinarsi menam-bahkan, untuk mendukung bandara NYI A, pihaknya akan menyambungkan jalan dari timur ke barat tanpa harus melalui pusat kota. “Targetnya, 2019 harus sudah tersambung. Walaupun mungkin ada beberapa sekmen yang be-lum kita tingkatkan, tetapi sudah tersambung, karena sebagian akses juga lewat frase jalan pro-vinsi,” katanya.

Dikatakan, tersambungnya akses jalan menuju bandara akan sangat membantu, semisal orang Gunungkidul yang hendak ke bandara tidak perlu ke tengah kota. Terkait anggaran, untuk membuat dua jalur sekitar Rp 2,7 triliun. “Tanah itu menjadi kewenangan prvinsi dan kabupaten, namun untuk fisiknya menjadi ke-wenangan pusat penuh. Karena hal itu masuk tata ruang nasional, DIJ paling leading untuk ini, karena kami juga berkepentingan untuk pengembangan kawasan selatan,” tuturnya. (tom/jko/ong)