JOGJA – Rayi-rayi dalem atau adik-adik sultan akan kembali menggalang konsolidasi. Me-reka bakal berkumpul di Jogja sebelum pro-sesi jumenengan (naik takhta) Raden Mas (RM) Wijoseno Hario Bimo menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X pada 7 Januari nanti
“Sehari sebelum jumenengan di Pakualaman, kami akan kum-pul,” ungkap Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudha-ningrat kemarin (2/1).

Menurut dia, saudara-saudar-anya telah menyepakati perte-muan diadakan pada Rabu (6/1) nanti. Setelah pertemuan, lanjut Gusti Yudha, sapaan akrabnya, rayi-rayi dalem itu akan meng-hadiri acara di Pakualaman. Meski telah menyepakati hari pertemuan, namun lokasinya masih dibahas. “Nanti kami rembugan lagi,” ucapnya di sela berkunjung ke kediaman kakaknya GBPH Prabukusumo di kawasan Alun-Alun Selatan.

Diakui, sebelum adanya per-temuan itu, Gusti Yudha ber-sama saudara-saudaranya me-milih membiarkan sabda jejering raja bergulir. Pangeran yang di masa muda bernama BRM Sulaksmono ini sabda tersebut tidak perlu disikapi secara re-aktif. Alasannya, sabda dike-luarkan oleh raja yang tidak sah bertakhta. “Yang sah itu kan Hamengku Buwono X, bukan Hamengku Bawono Ka 10. Maka biarkan saja,” katanya.

Gusti Yudha meyakini sabda tersebut sebetulnya dikeluarkan demi memuluskan jalan bagi putri sulungnya. Dengan adanya sabda itu, maka peluang GKR Mangkubumi segera dinobatkan sebagai raja bakal makin terbuka. “Nanti setelah ini, akan disusul dengan jumenengan (GKR Mangku-bumi). Kalau itu sampai dilakukan, akan berhadapan dengan reaksi masyarakat,” tegasnya.

Kembali tentang pertemuan saudara-saudaranya, ada 11 pangeran yang akan hadir da-lam acara tersebut. Mereka adalah adik-adik dari Sultan Hamengku Buwono X yang sejak 30 April 2015 berubah nama menjadi Sultan Hamengku Bawono Ka 10.

Perubahan nama dilakukan melalui sabdaraja disusul dengan dawuhraja pada 5 Mei 2015 yang mengubah nama putri sulung sultan dari Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi.Kedua perintah raja tersebut memicu reaksi adik-adik sultan.

Kini, setelah sabdaraja dan dawuhraja, HB Ka 10 kembali mengeluarkan perintah ber-nama sabda jejering raja pada 31 Desember 2015. Dalam perin-tah ketiga ini, materinya jauh lebih keras. Adik-adik sultan yang dinilai membangkang alias tidak loyal akan dicopot dari kedudu-kannya dan diusir dari Bumi Mataram.Pertemuan 11 pangeran putra HB IX yang lahir dari empat garwa dalem (istri), sebetul-nya bukan kali pertama. Delapan bulan silam, tepatnya 7 Mei 2015, mereka pernah berkumpul di Ndalem Yudhanegaran, kedia-man Gusti Yudha yang terletak di Jalan Ibu Ruswo, Jogja.

Kala itu, mereka berkumpul guna menyikapi sabdaraja dan dawuhraja dari kakak mereka yang dinilai melenceng dari paugeran adat. Bahkan usai bertemu dengan HB Ka 10 di Keraton Kilen kompleks Keraton Jogja, enam pangeran Jakarta, putra HB IX dari garwa da-lem Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Tjiptomurti mengeluarkan sikap tertulis. Sikap itu diteken GBPH Paku-ningrat, sebagai anak laki-laki tertua dari KRAy Tjipmurti. Inti-nya, enam pangeran Jakarta ini menolak perubahan nama Ha-mengku Buwono X menjadi Ha-mengku Bawono Ka 10 dan me-nolak penobatan GKR Pemba yun menjadi GKR Mangkubumi.

Mereka juga tidak mengakui putri mahkota maupun sultan perempuan. Sebab dalam hukum adat, keturunan darah dalem hanya dari pihak laki-laki. Bila tetap dilakukan, maka kelanjut-kan Kasultanan Jogja akan terputus. “Sang penerus selanjutnya bukan lagi darah dalem (ketu-runan dinasti Hamengku Buwono),” ungkap GBPH Cakra-ningrat saat memberikan kete-rangan mewakili saudara- saudaranya di Tepas Danarta Pura Keraton Jogja 14 Mei 2015.

Hingga akhir hayatnya, HB IX memiliki lima garwa dalem. Dari lima istri itu, empat orang me-lahirkan keturunan yang jum-lahnya 21 anak. Detilnya 15 anak laki-laki, dan enam orang pe-rempuan. Dari 15 putra tersebut, tiga orang telah meninggal. Tiga orang tersebut adalah BRM Kus-lardiyanto (1978), KGPH Hadi-kusumo (1991), dan GBPH Joyo-kusumo (2014).

Kini yang masih hidup ada 12 orang. Anak laki-lak tertua HB Ka 10, disusul berturut-turut KGPH Hadiwinoto, GBPH Hadisuryo, dan GBPH Prabu-kusumo.Selanjutnya GBPH Pakuningrat, GBPH Yudhaningrat, GBPH Condrodiningrat dan GBPH Cakraningrat. Lalu GBPH Su-ryodiningrat. GBPH Suryome-taram, GBPH Suryonegoro, dan GBPH Hadinegoro.Ada pun anak perempuan, HB IX memiliki enam orang. Dua di antaranya yakni GKR Anom Adibroto (putri sulung) dan Gusti Raden Ajeng (GRAj) Kushandanari telah meninggal. Empat orang yang masih hidup adalah Gusti Bendoro Raden Ayu (GBRAy) Murdokusumo, GBRAy Darmokusumo, GBRAy Riyoku-sumo, dan GBRAy Padmoku-sumo. Tiga orang nama yang disebut di awal berstatus mba-kyu atau kakak dari HB Ka 10. Bersama 11 saudara laki-lakinya, empat putri HB IX ini pada 7 Juli 2015 juga pernah melayang-kan surat kepada HB Ka 10.

Isinya ingin bertemu dengan raja yang mereka angkat berda-sarkan rapat keluarga trah HB IX pada awal 1989 silam. Namun pertemuan gagal, karena masing-masing pihak bersikukuh dengan sikapnya. Sultan ingin pertemuan diha-diri 15 orang keturunan HB IX dan tidak dapat diwakilkan. Dia juga keberatan mencabut nama Hamengku Bawono Ka 10 untuk kembali menjadi Hamengku Buwono X sebagaimana tuntu-tan adik-adiknya.Sebaliknya, para pangeran ngotot dengan pendapat sultan yang mereka kukuhkan adalah Hamengku Buwono X, dan bu-kan Hamengku Bawono Ka. 10.Lantaran tak ada titik temu, sampai sekarang pertemuan gagal terselenggara hingga ke-luarnya sabda jejering raja yang dikeluarkan di hari terakhir 2015 lalu. (kus/jko/ong)