DWI AGUS/RADAR JOGJA
IKON JOGJA: Wisatawan melewatkan pergantian tahun di kawasan Malioboro. Pertumbuhan angka wisata di Jogjakarta tahun 2015 melonjak. Untuk tahun Dinas Pariwisata DIJ fokus perbaikan dari segi kualitas pelayanan.
JOGJA – Pertumbuhan angka wisata di Jogjakarta melonjak di tahun 2015. Ber-dasarkan data yang dihimpun Dinas Pariwisata DIJ, angka kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 15 persen dari tahun sebelunya. Di mana tahun 2014 kunjungan wisatawan mancanegara mencapai angka 256 ribu.

Sedangkan untuk angka kunjungan wisatawan domestik meningkat drastis. Meski belum mendapatkan angka pasti, berkisar di atas tiga juta wisatawan. Angka ini juga melampaui kunjungan wisata domestik 2014 yang berada di angka tiga juta wisatawan. “Untuk angka pasti tetap menunggu rekap di bulan Februari 2016. Berdasarkan data triwulan memang sudah melampaui target tahun lalu. Bahkan target kunjungan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2017, sudah tercapai di tahun 2015,” kata Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ Aria Nugrahadi (31/12).

Menurutnya, peningkatan ini terjadi karena beberapa alasan. Seperti booming-nya penggunaan sosial media sebagai promo wisata. Selain itu peran komunitas dalam masyarakat juga penting. Hingga akhirnya sebuah objek wisata dapat menjadi trending topic.Sedangkan untuk fokus wisata di tahun 2016 tidak lagi berbicara tentang kuantitas. Pasalnya, angka kunjungan wisata di Jogjakarta terus meningkat. Langkah selanjutnya adalah memperbaiki dari segi kualitas pelayanan. “Dari segi kuantitas sudah tidak ada masalah lagi. Ke depan beranjak ke safety untuk beberapa destinasi wisata ekstrem. Sehingga kesalamatan wisatawan jadi prioritas utama. Kedua adalah sumber daya manusia sebagai penunjang pariwisata,” ungkapnya.Dari sisi SDM perlu perbaikan, terutama untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Di era ini, menurut Aria, persaingan semakin terbuka. Tidak menutup kemungkinan pelaku wisata di ASEAN bisa mengambil peran di Jogjakarta.

Pembekalan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing pelaku wisata. Sehingga dapat menguasai poin-poin wisata dan tetap menjadi tuan rumah di areanya sendiri. Fokus ini bisa diterapkan dalam pengembangan wisata minat khusus, terutama adventure. “Sehingga faktor keamanan dan SDM jadi sangat penting. Ke depan kami juga menyiapkan 16 lokasi pengembangan. Memadukan antara wisata alam dan wisata budaya dengan berdirinya amphit-heatre,” jelasnya.Ruang pertunjukan ini untuk mewadahi potensi seni budaya. Sehingga saat wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, juga kearifan lokal. Di tahun 2015, program ini sudah dilakukan di lima titik lokasi wisata di Jogjakarta. “Beberapa yang akan diwujudkan di tahun ini, seperti Pantai Sundak. Ada juga Gua Kiskendo di Kulonprogo dengan tampilnya sendratari Subali Sugriwa. Potensi seni ini tampil dua bulan sekali,” kata Aria.

Di sisi lain beberapa target masih belum tercapai dalam RPJM. Salah satunya adalah lama tinggal wisatawan. Untuk saat ini lama tinggal wisatawan masih di angka 2,0 hari. Sedangkan dalam target RPJM 2017 berada di angka 3,0 hari. “Ada dua tolok ukur. Pertama, jumlah wisatawan yang sudah tercapai. Sedangkan untuk lama tinggal masih belum ter wujud. Sehingga rancangan-rancangan di tahun ini akan semakin kita matangkan,” tambah Aria. (dwi/laz/ong)