JOGJA – Hari ini sejumlah siswa di DIJ memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) setelah libur akhir semester selama dua minggu. Namun KBM itu terancam tidak dialami ratusan siswa MTs Muhammadiyah Karangkajen, Jogja. Gara-garanya akses jalan menuju sekolah tersebut ditutup warga Perumahan Green House yang letaknya tak jauh dari madrasah tersebut. Akses jalan tertutup tembok setinggi setengah meter
“Ini memprihatinkan. Berbagai upaya pendekatan dan dialog telah dilakukan tapi tidak ada titik temu. Ini ironi kota pendi-dikan,” sesal David Efendi yang giat dalam Gerakan Membunuh Jogja, kemarin (3/1).David mengatakan, ada se-banyak 418 siswa MTs Karang-kajen. Mereka sebagian adalah anak-anak yatim yang tinggal di Panti Asuhan Yatim (PAY) Muhammadiyah, sebuah panti asuhan yang didirikan langsung KH Ahmad Dahlan.

Dari data itu diketahui basis ekonomi siswa MTs Muhamma-diyah Karangkajen berasal dari kelas menengah ke bawah. ” Hanya lewat pendidikan mereka bisa bermimpi pada hidup yang lebih baik,” kata pria yang sehari-hari dosen Fisipol UMY ini.MTs Muhammadiyah Karang-kajen terletak di Jalan Sisinga-mangaraja Gang Kalijaga Nomor 4 Mergangsan, Kota Jogja.

Me-diasi pihak MTs dengan peru-mahan yang dimediasi Pemkot Jogja telah berlangsung setengah tahun. Semula MTs ini berdiri pada 1985. Seiring perkembangan, MTs tersebut berkembang pesat dan membangun gedung baru unit 2 di lahan yang bersebela-han dengan Perumahan Green House.Pihak perumahan tak mem-berikan akses jalan dengan tidak memberi izin membuka pagar keliling perumahan yang meru-pakan jalan masuk ke sekolah. “Bulan-bulan lalu siswa masih bisa masuk karena ada jalan di utara sekolah. Sekarang jalan itu ditutup,” beber David.

Kepala MTs Muhammadiyah Karangkajen Sukarni berharap ada solusi terbaik mengatasi masalah tersebut. “Ada win-win solution antara sekolah dengan warga perumahan agar siswa dapat menempati gedung seko-lahnya,” ujarnya.

Terpisah, Wakil Ketua Pimpi-nan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ Arif Jamali Muis mengatakan, masalah MTs Muhammadiyah Karangkajen itu hendaknya menjadi kasus terakhir yang menimpa lem-baga pendidikan dan menjadi pembelajaran bagi pemkot. “Muhammadiyah sebelum negara lahir sudah terlatih men-derita untuk memintarkan umat,” katanya.

Pemkot, lanjut dia harusnya mengapresiasi dan bukan bert-indak sebaliknya, abai terhadap kiprah Muhammadiyah. Karena itu, dia berharap ada keberpi-hakan pemkot kepada lembaga pendidikan swasta yang telah membantu pemerintah me-menuhi hak pendidikan warga negara. (kus/ila/ong)