PADA bagian lain, dianggap sebagai loyalis Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono (HB) Ka 10, Kanjeng Pangeran Hario (KPH) Yudhahadiningrat menolak kemungkinan menjadi penghageng utama.

Menurut dia, dalam sejarah Ke raton Jogja, penghageng utama hanya diduduki oleh adik atau anak raja. “Saya sudah menjadi penghageng, tapi tidak mungkin menjadi penghageng utama,” ujar Romo Nur, sapaannya.

Pria dengan nama asli Brigjen (Purn) Nuryanto tersebut mem-bantah dirinya diproyeksikan untuk meng-gantikan salah satu posisi strategis yang saat ini diduduki para rayi dalem
Pangeran yang baru dilantik Agustus 2015 lalu tersebut men-jelaskan, sosok yang bisa men-duduki penghageng utama (da-lam pemerintahan biasa disebut menteri koordinator/menko) di Keraton Jogja, hanya adik atau anak dari raja yang bertakhta. “Kalau saya kan bukan rayi atau anak, jadi ya nggak mungkin lah,” jelasnya.

Seperti diketahui, sesuai dengan analisa dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan Fi-sipol UGM Bayu Dardias Kur-niawan (Radar Jogja, Sabtu 2/1), ada tiga adik HB Ka 10 yang memiliki jabatan strategis di Keraton Jogja. Yaitu KGPH Hadiwinoto sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Parasraya Budaya, GBPH Pra-bukusumo sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Nitya Budaya, dan GBPH Yudha-ningrat sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Parwa Budaya.

Jabatan tersebut setingkat Menko di pemerintahan Indonesia. Satu jabatan sudah diduduki oleh putri kedua HB Ka 10, GKR Condro-kirono, yaitu Penghageng Kawe-danan Hageng Panitraputra.

Menurut Romo Nur, dirinya tidak mungkin menjadi peng-hageng utama. Aturan tersebut sudah berlaku sejak lama, dan tidak mungkin berubah. Jika sampai terjadi, lanjut dia, justru akan menjadi lelucon. “Kuwi dagelan, karena aturannya ora ono (Itu lelucon, karena aturan-nya tidak ada),” terangnya.

Saat ditanya tentang isi sabda jejering raja yang dibacakan HB Ka 10 pada hari terakhir 2015 lalu, Romo Nur menolak ber-komentar. “Demi Tuhan, saya tidak berani berkomentar soal itu,” katanya. (pra/jko/ong)