PERJUANGAN Brigitta Amanda Maharani, meraih gelar first team Junio JRBL 2015 Jogja Series berkat dukungan penuh dari keluarga, terutama sang ibu. Keluarga selalu ada di barisan terdepan saat Amanda bertanding. “Keluarga sering banget nonton saat aku tanding, nyemangatin aku, sebelum tanding selalu ngingetin buat ga grogi dan percaya diri ngehadapi lawan,” ungkap Brigitta. Point guard dari SMP Stella Duce 1 Jogja memulai hobi basket sejak kelas empat sekolah dasar. Keinginannya ini didukung penuh oleh ibunya, mantan pemain basket kala muda dulu. “Ibu sering cerita zaman sekolah bergabung jadi tim basket, akhirnya aku kepengen main basket,” ungkap dara berambut panjang ini.

Berkat cerita-cerita ibu semasa mudanya, akhirnya Amanda ke-pincut juga dengan olahraga asal Amerika ini. Berlatih dan berlatih adalah kunci dari seorang Brigita kecil. Tambahan materi dengan berlatih sendiri juga kerap dia lakukan. Baginya, basket tak sekadar ekstrakurikuler yang selalu dia ikuti di sekolah, tapi berkat basket dirinya dapat belajar tentang kerjasama tim. Termasuk saling percaya satu dengan yang lain, yang dapat diaplikasikan dalam pertemanannya.Dari lima hari sekolah dalam seminggu, dua hari diluangkan untuk segala hal tentang bas-ket, termasuk menonton film anime kesuka-annya Kuroko no Basuke. Anime asal Jepang ini mengisahkan tentang bola basket yang diilustrasikan oleh Tadatoshi Fujumaki yakni sebuah sekolah yang memiliki pe-main generasi keajaiban dan memiliki mimpi untuk bermain di tingkat nasional.

Amanda mengidolakan tokoh-tokoh dalam anime tersebut. Selain tokoh-tokoh yang inspiratif dalam Kuroko no Basuke dirinya juga dapat mencuri trik-trik bola basket yang ada di anime tersebut dan diterapkan dalam permainannya. Bercita-cita sebagai dokter menjadikan Amanda harus giat belajar. Basket adalah hobi yang harus seimbang dengan sekolah. Walau capek latihan harus tetap ngerjain tugas dan ga boleh males. “Harus pintar membagi waktu, sekolah tetap nomor satu,” katanya. (rin/iwa/ong)