GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TEROBOS HUJAN: Sejumlah warga menggunakan plastik untuk melindungi diri dari guyuran hujan, di Ambarketawang, Gamping, Sleman. Pada musim penghujan ini masyarakat diimbau untuk mewaspadai hujan lebat yang diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat. Umumnya, hujan lebat ini disertai angin kencang dan petir.
SLEMAN- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta mem-prediksi puncak curah hujan bakal terjadi pertengahan Januari hingga Februari. Ken-dati begitu, tidak menutup kemungkinan curah hujan tinggi bakal terjadi dalam waktu dekat akibat pengaruh pola angin. Pada puncaknya, curah hujan bisa men-capai 150-400 milimeter. Curah hujan tidak merata. “Wilayah utara Sleman yang berupa dataran tinggi berpotensi hujan lebih ba-nyak,” jelas Koordinator Stasiun Klimatologi Joko Budiono kemarin (4/12). Kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat saat ini masih ada sisa material erupsi di puncak Gunung Merapi. Sebanyak sekitar 25 juta meter kubik. Berdasarkan pengalaman, material di puncak Merapi bakal luruh ke hulu sungai jika terguyur hujan deras dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.

Nah, pola hujan tidak merata kerap mem-buat warga terlena. Sebab, saat puncak di-guyur hujan, ancaman lahar hujan bakal melanda permukiman di sepanjang sungai berhulu Merapi, meskipun kawasan hilir (perkotaan) kondisi cuacanya cerah atau berawan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito mengatakan, kondisi darurat lahar hujan tak bisa diprediksi. Apalagi, sisa material vulkanik yang mengendap cukup lama belum menunjukkan tanda-tanda bakal luruh. Saat cuaca ekstrem dua bulan lalu pun tak menunjukkan gejala lahar hujan. “Itulah kenapa warga harus selalu siap siaga. Jangan sampai terlena” tutur Dwi.Sedikitnya 76 dusun yang dilewati sungai-sungai berhulu di puncak Merapi tergolong kawasan rawan banjir lahar hujan. Di anta-ranya, wilayah di sepanjang Sungai Gendol, Kuning, Opak, Boyong, dan Krasak. Beberapa kawasan yang harus siaga, di antaranya, Pakem, Turi, Mlati, Ngaglik, Cangkringan, Ngemplak, Depok, Kalasan, dan Prambanan.

Tak kalah penting, kewaspadaan warga Kota Jogja. Sebab, sebagian sungai berhulu Merapi menyambung di sungai yang mem-belah Kota Jogja. Yakni, Kali Code, yang merupakan terusan Sungai Boyong dan Kali Gajah Wong yang mengalir dari Opak. Saat ini, pantauan arus sungai berhulu Merapi mengandalkan CCTV yang dipasang di titik-titik rawan lahar hujan. Selain itu, pemerintah masih mengandalkan infor-masi para relawan yang siaga di pos Early Warning System (EWS).Untuk memudahkan pemantauan malam, Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan In-formasi (Dishubkominfo) memasang 20 lampu sorot di kawasan rawan banjir.Khususnya, di jembatan-jembatan yang rawan jebol jika diterjang material vulkanik. “Jika ada yang mengetahui ada potensi bahaya bisa langsung menginformasikan ke pemkab,” ujar Kepala Dishubkominfo Agoes Soesilo Endriarto. (yog/din/ong)