DWI AGUS/RADAR JOGJA
LATIHAN JELANG PENTAS: Para penari yang ditunjuk saat latihan menari Beksan Angron Akung di Bangsal Sewatama. Tarian klasik ini akan menandai Jumenengan Dalem KGPAA PA X, Kamis (7/1).
PADA bagian lain, Beksan Angron Akung disiapkan sebagai penanda Jumenengan Dalem KGPAA PA X, Kamis mendatang (7/1). Beksan klasik ini ditampilkan setelah KBPH Suryodiloho jumeneng sebagai KGPAA PA X
Beksan Angron Akung dicipta-kan di era KGPAA PA II tahun 1829-1858. Tarian ini bersumber pada cerita Raden Panji Inu Ker-tapati. Cerita panji yang muncul sekitar abad XIII hingga XIV lalu. “Cerita tentang pengemba-raan Raden Panji Inu Kertapati yang hendak mencari Dewi Candrakirana. Disajikan oleh tujuh penari perempuan, dan berkiblat pada tari gaya Jogja-karta,” kata panitia jumenengan dalem bidang adat B.R.Ay Indrokusumo, Senin (7/1).Dipilihnya beksan ini, karena merupakan karya asli Kadipaten Pakualaman.

Menurutnya, beksan ini pernah dibawakan saat jume-nengan dalem KGPAA PA IX. Da-lam kesempatan ini, beksan diha-dirkan kembali sebagai pertanda jumeneng dalem KGPAA PA X.Dijelaskan, Angron Akung wu-jud dari akronim dua buah kata. Ron berarti daun, sedangkan akung berarti kasmaran. Secara simbolis, beksan ini memiliki makna pengembaraan dan penyatuan dua insan. Ini bisa digambarkan penyatuan KGPAA PA X dengan warganya.Untuk mewujudkan beksan ini, perlu penggalian data.

Pasalnya manuskrip beksan ini hanya berupa tulisan, tidak dilengkapi dengan gambar gerak sang pe-nari. Sehingga dirinya tidak me-nampik akan ada perbedaan persepsi dari beksan aslinya. “Dulu memang pernah ditam-pilkan di tahun 1991 hingga 1993. Tapi ini rentang waktu yang sangat lama. Tidak hanya di Ang-ron Akung, tapi kemungkinan di beksan lainnya juga. Ini karena beksan zaman dulu, seperti itu, tidak ada (dokumentasi) gambar gerak tarinya,” kata istri dari KPH Indrokusumo ini.

Durasi tampil akan dipadatkan dari aslinya. Jika durasi sekitar 60 menit akan dipadatkan menjadi 35 menit. Namun pemadatan ge-rakan ini tidak mengubah esensi, dan etika beksan klasik itu sendiri.Beberapa gending klasik juga turut dimainkan untuk mengiringi tarian ini. Di antaranya gending Gandrung Mangungkung, Ladrang Subrang, Ketawang Srepegan dan gending Ladrang Kapang-Kapang. Sedangkan pakaian mengenakan mekak, sengkelar di dada dengan batik motif wahyu tumurun. Ke-tujuh penari pun berdandan paes ageng. “Kita juga berharap masyara-kat mengetahui kekayaan seni budaya Pakualaman. Kebetulan untuk jumenengan dalem mengangkat beksan Angron Akung. Tapi kami memiliki ragam beksan sejak era KGPAA PA I hingga KGPAA PA IX,” harapnya.

Para penari yang terlibat dalam Angron Akung di antaranya Nyi Mas Wedono Retnomatoyo, R.A. Dyah Laksita Fitrianingrum, Nyi Mas Bekel Puspitomatoyo, Ayunita Krisninda Pratiwi, Anggun Her-liyani, Ni Luh Enita Maharani dan Dilania Sudiyatmala.Sedangkan untuk penata tari Prof. Dr. Nyi M.T. Prabanegara. Penata iringan Djaka Waluyo, penata rias Tatih Siswanti. Se-dangkan bertindak sebagai penata busana, B.R.Ay Indro-kusumo. (dwi/jko/ong)