Oleh : KUSNO S UTOMO/Redaktur Senior

Kalenggahan Putra Mahkota Dipocot oleh Sultan Mangkubumi

KALENGGAHAN dan di-pocot menjadi dua kata yang mendadak populer di media sejak beberapa hari belakangan. Itu terjadi setelah Sultan Ha-mengku Bawono Ka 10 mengelu-arkan dawuh alias perintah bertajuk sabda jejering raja pada 31 Desember 2015.Kalenggahan bermakna kedu-dukan. Sedangkan dipocot atau diplocot mengandung arti dip-ecat atau dicopot. Maka bila ada kalimat dipocot kalenggahe, maknanya adalah dicopot dari kedudukan atau jabatannya.Keraton Ngayogyakarta Hadining-rat memiliki sejarah panjang dalam urusan suksesi. Termasuk terkait dengan sentana dalem (kerabat), rayi dalem (adik raja), dan abdi dalem (kawula) yang dipocot dari kalenggahan-nya.Pengalaman pertama ditunjuk-kan di masa pemerintahan Sul-tan Hamengku Buwono I. Pen-diri Keraton Jogja itu pada awal-awal kekuasaanya juga kerap disebut Sultan Mangkubumi. Sapaan ini sering disampaikan Raden Mas (RM) Said, kepona-kan sekaligus menantu HB I yang kelak bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro I
Dalam beberapa tulisan soal Mangkunegaran, dia kerap me-manggil sang paman dengan sebutan tersebut.Tidak tanggung-tanggung orang yang dipocot kalenggahane oleh Sultan Mangkubumi ini bukan sekadar sentana dalem atau rayi dalem. Tapi, putra dalem atau putra raja yang tengah bertakh-ta. Bahkan anak raja yang dipo-cot itu berkedudukan sebagai putra mahkota. Sesuai dengan paugeran (hukum adat) orang yang ditasbihkan menjadi putra mahkota adalah kandidat raja yang akan menggantikan kedu-dukan sultan yang bertakhta.Orang yang dipocot kalenggahe dari posisi putra mahkota tersebut bernama RM Ento. Dia merupa-kan putra raja dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Ken-cono. Dia diangkat sebagai putra mahkota sejak Pangeran Mang-kubumi masih memimpin gerilya dan bergelar Susuhunan Kaba-naran 1749 atau sebelum perjan-jian Giyanti 13 Februari 1755.

Ento diangkat dengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamengkunegoro. Kelak gelar ini dipakai setiap putra mahkota atau calon raja yang akan jumeneng menjadi Susuhunan Paku Buwono di Surakarta dan Sultan Hameng-ku Buwono di Jogjakarta.Namun dalam perkembangan-nya suksesi politik menjadi ber-masalah bagi Ento. Dia dikenal sombong, tak mau belajar sastra, dan terlibat peristiwa pemban-taian tujuh orang Tionghoa saat mendampingi ayahnya berkun-jung ke daerah Kedu, Jawa Tengah.Gubernur VOC Nicolas Hartingh yang mengetahui informasi itu menyampaikan kepada Sultan Mangkubumi dalam pertemuan di Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping, Sleman 1758.

Hartingh memberikan masukan agar Sul-tan mempertimbangkan pem-batalan status putra mahkota bagi Ento. Pertimbangannya, bila Ento tetap menggantikan Sultan Mang-kubumi, cacat politik yang me-nerpanya bakal menyulitkan jalannya pemerintahan Kasul-tanan Jogja. “Saat itu Sultan berjanji akan menegur putra mahkota agar mau mengubah tabiatnya,” tulis Susilo Harjono dalam buku berjudul Kronik Suksesi Keraton Jawa 1755-1989.Sejarah suksesi politik Keraton Jogja benar-benar berubah ke-tika terjadi peristiwa Agustus 1758. Dalam suatu kunjungan ke Borobudur, Ento terlibat hu-bungan gelap dengan seorang perempuan Tionghoa. Kejadian ini dianggap sebagai perilaku tabu dan sangat memalukan bagi seorang calon raja Jawa.HB I menjadi sangat marah.

Namun sultan sempat ragu-ragu karena pencabutan gelar putra mahkota akan menimbulkan goncangan bagi keluarga kasul-tanan. Akhirnya diambil kepu-tusan melenyapkan Ento secara diam-diam. Putra mahkota di-racun melalui makanan yang disantapnya. Akhir Agustus 1758, Ento meninggal setelah mende-rita sakit beberapa hari akibat racun yang menyerangnya.Pujangga keraton menyembu-nyikan fakta ini dengan menu-liskan saat berkunjung ke Boro-budur, Ento melihat seribu bayang-bayang ksatria yang mengepungnya. Bersamaan dengan itu, dia mendapatkan bisikan bahwa hal itu akan mem-bawa petaka bagi dirinya.Sepeninggal Ento, Sultan Mang-kubumi mengangkat putra laki-laki tertua nomor tiga sebagai putra mahkota. Namanya Gus-ti Raden Mas (GRM) Sundoro, putra dari permaisuri GKR Ka-dipaten.

Sebenarnya ada putra sultan yang lebih tua yakni Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Hangabehi yang lahir dari garwa ampeyan (selir) Bendoro Raden Ayu (BRAy) Tilarso. Dengan melihat posisi itu, kans RM Sundoro lebih kuat karena dia merupakan anak dari per-maisuri kedua sultan. Kedudukan putra dari permaisuri lebih menda-patkan prioritas dibandingkan anak raja yang lahir dari selir.Pengangkatan Sundoro ini merupakan langkah paling aman demi menjaga kepentingan in-ternal di antara putra-putra sul-tan didasarkan situasi politik. HB I sadar tidak ingin memunculkan manuver politik terlalu tajam guna menghindari terpicunya konfrontasi dengan Belanda.Selain itu, Sultan Mangkubumi memiliki anak-anak yang cukup cakap, seperti BPH Hangabehi dan BPH Notokusumo yang ke-lak bergelar Paku Alam I. Bila tak menjamin mereka sepenuh hati mematuhi keputusannya, raja khawatir Jogja akan teng-gelam dalam perang saudara memperebutkan takhta.

Karena itu, menjelang wafat sultan mengumpulkan semua anak-anaknya. HB I membagi-bagikan pusaka dan harta ke-pada mereka, sekaligus me-minta kesediaan putra-putri, dan semua pejabat kerajaan bersum-pah setia kepada putra mah-kota, GRM Sundoro.Nama Sundoro secara khusus juga disebutkan di Perjanjian Giyanti pasal 1 yang menyatakan, “Pangeran Mangkubumi diang-kat sebagai Sultan Hamengku Buwono Senopati ing Ngalaga Ngaburrachman Sayidin Pana-tagama Khalifatullah di atas separo dari Kerajaan Mataram yang diberikan kepada beliau dengan hak turun temurun pada warisnya, dalam hal ini Pangeran Adipati Anom GRM Sundoro”.

Pangeran Adipati Anom ini akhirnya naik takhta menjadi HB II menggantikan ayahnya yang wafat pada 1792. Proses suksesi dari HB I ke HB II ini juga diwarnai berbagai intrik. Menyadari itu, Sundoro se-masa masih menjadi putra ma-hkota menulis karya sastra berjudul Babad Mangkubumi. Dia juga menulis karya lainnya Serat Surya Raja, saat menghadapi Belanda, dan ancaman intrik politik teru-tama dari saudara tirinya Pang-eran Notokusumo. Karya itu di-buat saat Sundoro telah bergelar HB II. (bersambung)