OLEH DISABILITAS UNTUK DISABILITAS: Aktivitas di bengkel Prostetik dan Orthotik (P&O) di Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum), Sleman, kemarin.

Bahu-membahu Produksi Alat Bantu Gerak dan Beraktivitas

Keterbatasan bukan berarti membuat aktivitas menjadi terbatas. Di bengkel Prostetik dan Orthotik (P&O) di Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum), Sleman, tujuh di antara 11 pekerja di bengkel ini, merupakan penyandang disabilitas. Meski memiliki keterbatasan f sik, semangat bekerja dan berkreasi tidak menjadi pembeda
DEWI SARMUDYAHSARI, Sleman
RATUMIYANTO, 38 tahun, tam-pak sibuk mengamati presisi kaki palsu yang sudah memasuki tahap finishing. Salah satu aktivitas yang menjadi pekerjaan rutin Yanto, panggilan akbarnya, di bengkel P&O. Seperti namanya, bengkel ini merupakan sarana membuat pros-tetik atau alat ganti tubuh, seperti kaki dan tangan palsu atau bagian lainnya. Serta orthotic atau alat bantu penyangga tubuh atau yang bersifat menguatkan. “Dari mulai leher hingga ujung kaki, sebagai alat bantu atau mo-bilitas gerak,”ujar Kepala Seksi Bengkel yang sudah mengabdi di bengkel ini selama 20 tahun
Di bengkel ini lah, alat-alat bantu gerak mulai dari pola, mengelas, merakit, hingga akhir-nya dapat digunakan, dikerjakan secara bahu-membahu sesuai keahlian masing-masing pe-kerja. Ada unit membuat pola, unit mengelas, dan sebagainya. Mereka mulai beraktivitas setiap harinya sejak pukul 08.00 hingga sore pukul 16.00 WIB. Meski sebagian besar pekerja di beng-kel ini penyandang disabilitas, mereka tetap berupaya semak-simal mungkin membuat alat yang paling baik dengan kualitas pabrikan. Formasi ini sebagai wujud pemberdayaan para penyandang disabilitas, sehing-ga tetap dapat berkarya dan be-kerja membantu sesama. Bahkan, mereka mampu memenuhi pes-anan alat bantu sebanyak 15 hingga 30 unit per bulan.Selain membuat alat bantu untuk digunakan murid Yakkum, bengkel ini juga menerima pes-anan dari pasien mandiri dan bermitra.

Menurutnya, beber-apa alat bantu yang diproduksi di bengkel ini, ada beberapa kategori. Pertama adalah alat bantu penyambung atau peng-ganti bagian tubuh yang lain, seperti kaki atau tangan palsu. Ada pula alat bantu untuk me-nyangga seperti brace (penyang-ga kaki), dan korset. Sedangkan alat bantu lain, adalah untuk mengganjal seperti sepatu khu-sus yang digunakan bagi me-reka yang panjang kakinya tidak sama atau biasa disebut sepatu orthopaedic. “Kami membuat berbagai alat bantu, seperti kaki palsu, tangan palsu, kursi roda, sepatu, serta motor modifikasi,” ujarnya. Namun sementara ini khusus untuk membuat motor modifi-kasi distop dulu. “Karena dari segi waktu, untuk membuat motor modifikasi ini sangat ba-nyak terbuang,” paparnya.

Dengan alat-alat produksi yang cukup memadai, membuat beng-kel ini dapat meproduksi alat sesuai dengan kebutuhan si pemesan. Itu lah keunggulan yang dimiliki bengkel ini. Ka-rena, kebutuhan alat bantu pe-mesan juga berbeda-beda, me-nyesuaikan keadaan fisik setiap orang yang berbeda. Mislanya dalam membuat kursi roda bagi penyandang Cerebral Palsy (gangguan gerak karena kelum-puhan otak). “Desain kursi roda berbeda satu dengan yang lain menyesu-aikan kebutuhan sesuai dengan keadaan tubuh masing-masing. Butuh penilaian atau assessment dokter terlebih dahulu yang disampaikan oleh keluarga se-belum kursi roda mulai diker-jakan sesuai catatan yang dibu-tuhkan,” paparnya.

Pembuatan berbagai alat ban-tu ini menggunakan beragam material, seperti stainless steel, alumunium dural, fiberglass, polypropylene, kulit, hingga bahan dari karet. Pilihan mate-rialnya dipilih yang lebih ringan, namun bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama. “Dengan peralatan yang ada, kami berupaya memberikan pe-layanan yang terbaik, dengan mengedepankan mutu dan kuali-tas dalam pengerjaannya,” ujarnya.

Manajer Admin dan HRD Yak-kum Fransisca Brigita menga-takan, bengkel P&O juga mem-produksi alat bantu untuk men-dukung komunitas difabel di daerah dampingan, yakni Ku-lonprogo dan Purworejo. Selain memiliki bengkel P&O, Yakkum memiliki sarana pelatihan khu-sus bagi penyandang disabilitas. “Melalui training sof skill, kami mendorong mereka untuk bekerja di perusahaan-perusa-haan formal lainnya, seperti hotel misalnya. Jadi tidak mel-ulu, harus membuka usaha sen-diri,” ujar Fransisca. (jko/ong)