GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DIBUKA PAKSA: Siswa MTs Muhammadiyah Karangkajen Jogja melintasi akses jalan yang semula tertutup, Senin (4/1). Akses ini terbuka setelah Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti turun tangan dan memimpin langsung pembongkaran pagar atau tembok pembatas, waktu subuh kemarin (4/1).
JOGJA – Siswa-siswi Madra-sah Tsanawiyah (MTs) Muham-madiyah Karangkajen Jogja akhirnya bisa penafas lega. Pagar penutup akses masuk sekolah yang dikhawatirkan menjadi penghalang masuk ke sekolah, akhirnya dibuka pak-sa. Pembongkaran dipimpin langsung oleh Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti
Pagi kemarin (4/12), memang menjadi sejarah bagi Wali Kota Haryadi Suyuti. Jika biasanya, HS, panggilan akrabnya, datang belakangan, kala membongkar pagar Perumahan Green House, datang saat matahari belum menunjukkan sinarnya. Dia datang dengan beberapa orang berseragam Satpol PP dan PNS. Dia menginstruksikan be-berapa orang berkaus Satpol PP membongkar pagar. Dia lah Wali Kota Jogja Harya-di Suyuti yang datang untuk mempin pembongkaran pagar setinggi 1,5 meter milik Peruma-han Green House.

HS datang lebih awal tepat usai salat Subuh, agar siswa bisa melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar pada jam yang sudah ditentukan. Sejak awal dibangun pada 2013, gedung unit II MTs Karangkajen memang tidak memiliki akses jalan. Satu-satunya akses jalan, ada di bagian utara gedung sekolah, namun sudah dibangun perumahan.Sudah tak terhitung mediasi pihak sekolah dengan warga.

Namun sejumlah itu juga, tak pernah ada hasilnya. Sampai berganti Camat Mergangsan pun, masalah tersebut tak juga sele-sai. Sampai akhirnya memuncak sejak akhir pekan lalu, ketika siswa-siswi MTs jelang masuk sekolah, setelah liburan panjang akhir tahun. Dari informasi yang beredar sejak Minggu (3/1), siswa di sekolah tersebut akan melaku-kan aksi. Tapi aksi belum di-mulai, HS memilih turun sen-diri memimpin pembongkaran pagar. “Ini langkah darurat yang harus saya lakukan agar siswa-siswi bisa masuk sekolah dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik,” tegas Haryadi, kemarin.

HS menambahkan, pembong-karan ia pilih karena tak ada solusi. Proses mediasi antara pihak sekolah, warga perumahan Green House yang dimediasi Pemkot Jogja selalu gagal me-nemukan kesepakatan. Di sisi lain, kemarin menjadi hari per-tama siswa masuk sekolah.Haryadi memastikan, langkah-nya itu bukan berarti ia memihak sekolah. Pertimbangannya, hanya demi kebaikan siswa agar bisa belajar dengan tenang. “Saya harus melakukan apa yang harus saya lakukan dengan segala ri-siko,” ujarnya.

Setelah akses masuk sekolah MTs Muhammadiyah Karang-kajen terbuka, Haryadi minta proses dialog kembali dilanjut-kan dengan catatan tidak meng-ganggu proses belajar mengajar. Kepala Sekolah MTs Muham-madiyah Karangkajen Sukarni mengatakan, sekolah sudah be-rulangkali bernegosiasi dengan warga. Tak membuahkan hasil. Pro-ses negosiasi dilakukan sejak tiga tahun lalu dari mulai tingkat RW sampai komunikasi melalui Pim-pinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pemkot Jogja. “Tapi warga perumahan tidak membolehkannya, karena dikha-watirkan mengganggu ketenangan warga,” ujar Sukarni.

Akses masuk MTs Karangkajen di bagian selatan ini memang menjadi satu kompleks dengan perumahan. Semua siswa harus melalui gerbang perumahan menjadi satu akses dengan warga perumahan.Ketua RW 23 Brontokusuman, Mergangsan Wikan Danardono menolak disebut menghalangi akses sekolah MTs Muhamma-diyah Karangkajen. Persoalan itu mengemuka beberapa bulan terakhir. Itu terjadi ketika pihak sekolah tiba-tiba membuka ak-ses masuk sekolah dibagian selatan gedung tanpa berkomu-nikasi dengan warga.

Menurutnya, pagar tembok pe-rumahan sudah dibangun sejak 1990, sementara gedung sekolah baru dibangun sejak tiga tahun lalu. Ia khawatir jika akses masuk sekolah menjadi satu kompleks akan mengganggu aktivitas war-ga perumahan yang terdiri dari 145 rumah, empat RT. “Kedepannya kan tidak hanya untuk akses siswa, tapi ada akti-vitas antar jemput siswa sampai pedagang nanti masuk, kami khawatir mengganggu aktivitas warga. ” ujar Wikan. (eri/jko/ong)