MAGELANG – Pemkot Magelang me-milih tidak memutus kontrak PT Aneka Bangun Cemerlang (ABC) Jogjakarta. Padahal, kontrak pelaksana pem-bangunan Masjid Ilmun Nafi kompleks Kantor Pemkot Magelang tersebut sudah habis sejak 29 Desember 2015. Sebe-lumnya, pemkot berencana memutus kontrak, jika pekerjaan belum selesai. “Secara prinsip masjid bisa digunakan. Kami tidak putus kontrak. Kalau di putus, justru kami yang rugi,” ungkap Al Idris, Kabag Perlengkapan Pemkot Magelang, sekaligus PPK Pembangunan Masjid Ilmun Naffi, kemarin (4/1).

Seperti diketahui, PT Aneka merupakan pelaksana pembangunan Masjid Ilmun Nafi yang nilainya mencapai Rp 2,53 miliar. Sesuai kontrak, proyek tersebut sejatinya harus selesai pada 22 Desember 2015. Namun, Pejabat Pembuat Komitmen (PKK) masih memberi ba-tas toleransi selama satu pekan dengan denda 1/1.000 dari nilai sisa kontrak sebesar 10 persen.

Menurut Idris, negara justru diun-tungkan dengan tidak memutus kontrak terhadap PT ABC tersebut. Ia belasan, pembayaran hanya akan diberikan sebesar 90,26 persen, sesuai progres pekerjaan per 29 Desember 2015. Namun, hasil pembangunan tetap 100 persen. “Dengan tidak memutus kontrak, pe-meliharaan masih jadi tanggung jawab rekanan. Yang dibayarkan hanya 90,26 persen atau Rp 2.288.817.593. namun, hasilnya 100 persen,” paparnya.

Ariyadi, Kasubag Pengadaan Bagian Perlengkapan Pemkot Magelang me-nambahkan, negara berpeluang men-dapat kerugian jika pemutusan kontrak dilakukan. Sebab, hasil pembangunan hanya mencapai 90,26 persen. Hal ini, lanjut Ariyadi, akan membuat bangunan masjid mangkrak dan tak bisa di fungsikan. “Kekurangan pembangunan tinggal estetika saja. Seperti penyelesaian ruang wudu dan pengecatan. Kalau diputus kontrak, khawatirnya malah gedung jadi mangkrak. Karena tak selesai,” katanya.

Meski begitu, ia menegaskan akan tetap memberi peringatan, terkait kinerja PT ABC dalam penyelesaian proyek tersebut. Bila ditemukan ketidakseriusan, PPK tidak segan memutus kontrak dan menyematkan rekanan ke dalam daftar hitam alias blacklist. “Saya yakin, mereka tidak akan me-ngambil risiko itu. Karena kerugiannya justru sangat besar. Apalagi sekelas PT ABC yang perusahaannya acapkali dipercaya pemerintah di daerah-daerah lain,” katanya.

Pembangunan Masjid Ilmun Nafi ini menelan APBD tahun 2015 sebesar Rp 2,53 miliar dalam waktu pengerjaan 140 hari kalender. PPK sempat memberikan adendum selama satu minggu pada rekanan, agar bisa menuntaskan pe-kerjaan. Namun, akhirnya gagal di-selesaikan. (dem/hes/ong)