TKP PENJEMPUTAN: Rumah tempat penjemputan dr. Rica dan anaknya di Dusun Gedongan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
SLEMAN – Polda DIJ masih terus melakukan penyelidikan dan penelusuran terkait hilangnya istri dr. Aditya Akbar Wicaksono, dr Rica Tri Handayani, sejak 30 De-sember 2015 lalu. Dengan mem-bentuk dua tim khusus, saat ini sudah ada sedikit kemajuan dan titik terang dari keberadaan dokter alumni FK UII itu. “Sudah dapat kami deteksi pemilik mobil dan posisi terakhir yang bersangkutan. Yang jelas sudah di luar Jogja, tapi masih di Indonesia,” ujar Direskrimum Polda DIJ Kombes Pol Hudit Wahyudi kepada wartawan di PN Sleman, kemarin (5/1).

Dia berharap, dengan koordinasi petugas kepolisian, segera me-nemukan keberadaan perem-puan asal Lampung tersebut. “Mudah-mudahan segera kami temukan, mohon doanya,” im-buhnya singkat.Sementara itu, kepada wartawan, suami dr Rica, dr Aditya Akbar berharap, kepada masyarakat atau kerabat yang mengetahui ke-beradaan istri dan anaknya untuk segera menginformasikannya. Dia menerangkan, sebelumnya pada 29 Desember 2015, ia beserta istri dan anaknya, menginap di kediaman kakak iparnya, di Ma-guwoharjo, Sleman. Mereka meng-inap di tempat itu, karena ayah mertuanya juga sedang berada di tempat tersebut. “Istri domisili Lampung, sudah dua minggu di Jogja,” ujarnya.

Kemudian, pada 30 Desember pagi, dia berangkat ke RS. Sarjito, sekitar pukul setengah enam pagi. Pada hari itu juga, ayah mertuanya kemudian kembali ke Lampung. Selanjunya, pada jam 08.00 kakak iparnya berangkat kerja. Adiknya juga ke sekolah. Sehingga hanya tinggal istri, anak dan tantenya yang berada di rumah. “Jam 08.00 masih kontak. Dia masih foto selfie dan membalas WA saya,” imbuhnya.

Sore sekitar waktu Asar, saat dia akan pulang, komunikasi dengan sang istri sudah tidak terhubung. Sejurus kemudian, dia me ngambil mobil bermaksud menjemput istri dan anaknya. “Saat itu saya di-hubungi adik saya yang sudah dulu ke tempat kakak ipar. Dia menanyakan apakah istri dan anak saya sudah dijemput. Karena saat itu sudah tidak ada,” terangnya. “Saya ke sana. Sampai di sana sudah tidak ada barang-barang, termasuk anak dan istri saya. Tas, koper yang dari Lampung juga ndak ada,” sambungnya.

Setelah ditanyakan kepada tantenya yang saat itu di rumah, diperoleh keterangan bahwa istri dan anaknya dijemput oleh sepupunya dengan mobil Toyota Avanza sekitar pukul 10.00 WIB. “Katanya yang jemput Mas Eko sama Mbak Feni. Masih tergolong sepupu saya,” ungkapnya.

Kemudian, Adit mencoba menghubungi kedua pasangan tersebut. Namun nomornya sudah tidak aktif. Kemudian adiknya mengatakan, sebelumnya men-dapat pesan dari nomor asing. Isinya menyuruhnya mengambil surat dari istrinya di dalam lemari. “Suratnya buat saya, ibu-bapak, kakak angkat di Lampung dan adik saya. Isinya pamitan mau pergi,” katanya.Tak berhenti di situ, Adit lalu mencari keberadaan istri dan anaknya di rumah Eko dan Feni. Sayangnya, saat itu rumah tinggal mereka juga kosong. Barang-barangnya sudah tidak ada, tetangganya pun tak tahu ke mana perginya. “Menurut penyaksian tetangganya, sejak dua hari se-belumnya sudah beres-beres,” ungkapnya.

Hasil nihil juga di-dapatinya di tempat kerja Eko.Selanjutnya, pada 30 Desember 2015, dia melaporkan kepergian istri dan anaknya yang misterius itu ke Polda DIJ. Termasuk me-nyerahkan surat yang diberikan istrinya ke polisi untuk penye-lidikan. “Saya hanya ingin ber-kumpul lagi dengan istri dan anak saya,” ujar Adit. (riz/jko/ong)