SLEMAN- Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman Widi Sutikno memprediksi musim tanam bakal berjalan normal meski ada gejala El-Nino di awal Januari. Bahkan, musim tanam pertama telah dilakukan petani pada periode Oktober-November 2015. “Petani tak perlu khawatir soal itu karena lahan pertanian didukung saluran irigasi yang memadai,” katanya kemarin (5/1).

Widi justru mendorong terwujudnya sistem pertanian modern, seperti yang akan diterapkan di wilayah Kecamatan Sumberharjo, Prambanan mulai hari ini, Rabu (6/1). Sistem tersebut mengandalkan alat mesin pertanian berupa traktor roda empat dan alat penanam benih (transplanter). Total lahan yang menjadi pilot project seluas 100 hektare.

Sistem pertanian modern dilakukan dengan meminimalisasi galengan (pematang). Dengan begitu area tanam lebih luas. Pematang bukan lagi sebagai pembatas area sawah milik perseorangan. Tapi lebih untuk pengaturan manajemen pengairan. “Itu memang tak mudah karena melibatkan banyak sawah pribadi menjadi satu area pengolahan,” jelasnya.

Dengan sistem modern, petani bakal memperoleh keuntungan hingga 4 persen dari hasil panen pada umumnya. Dengan bantuan traktor roda empat, Widi optimistis pengolahan lahan bisa lebih cepat empat kali lipat. Target rata-rata sehari 1 hektar. Beda dengan pengolahan menggunakan traktor roda dua yang hanya menghasilkan seperempat hectare per hari. “Karena alatnya besar, maka luas lahan juga harus lebih lapang,” tutur Widi.

Untuk melaksanakan pilot project, dinas melibatkan satu gabungan kelompok tani. Mereka memperoleh bantuan 3 unit traktor roda empat, 5 traktor roda dua, 5 pompa air, dan 3 transplanter.(yog/din/ong)