HERU PRATOMO, Jogja
BANGGA: Iskandar seorang guru seni lukis di SMAN 1 Jogja dipercaya oleh panitia jumeneng dalem PA X untuk menulis nama undangan yang ditujukan untuk para tamu.

Tulis 1.100 Nama, Selesai dalam Waktu Seminggu

Kemampuannya dalam seni kaligrafi , membuat Iskandar dipercaya Puro Pakualaman untuk menulis nama di undangan jumeneng dalem yang ditujukan untuk para tamu. Bahkan, dia sanggup menyelesaikan penulisan sekitar 1.100 nama undangan. Siapa sebenarnya Iskandar?
HERU PRATOMO, Jogja
UNDANGAN untuk jumeneng dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X 7 Januari 2016 nanti terbilang istimewa. Sebab, untuk nama para tamu yang diundang ditulis tangan, bukan dengan ketikan komputer. Undangan untuk presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, dan ribuan undangan lainnya, ditulis dengan tangan oleh Iskandar. Guru seni lukis di SMAN 1 Jogja ini dipercaya oleh panitia jumeneng dalem PA X untuk menulis nama undangan.

Ide tersebut berasal dari permintaan para raja nusantara, yang menghendaki unda-ngan untuk raja ditulis tangan. Oleh Ketua II Jumeneng Dalem PA X KRMT A Tirto-negoro, permintaan tersebut diberlakukan untuk semua undangan. “Setelah pemben-tukan panitia, saya ditanya Pak Joko (Joko Tirtono, nama asli KRMT Tirtonegoro) untuk merealisasikan ide itu. Karena masih satu bulan lebih saya sanggupi,” ujar Iskan-dar saat ditemui di SMAN 1 Jogja
Bahkan Iskandar menyang-gupi untuk menulis tangan sen-diri semua nama di undangan setelah tahu desain layout un-dangan. Menurutnya, karena hanya menulis nama saja, dia berasumsi bisa selesai dalam satu minggu. “Karena hanya nama, asumsi saya seminggu selesai,” ujarnya.

Iskandar mulai menulis nama undangan pada 25 Desember 2015 dan ditargetkan sebelum 1 Januari 2016 sudah selesai, seti-daknya menulis sebanyak 1.100 undangan. Ternyata perkiraan-nya meleset, hingga H-2 jumen-eng dalem, Iskandar masih terus diminta untuk menulis undangan. Karena ada tambahan undangan dan perubahan lainnya. Sekre-tariat panitia, lanjut dia, masih menambah daftar undangan. Saat ini, tinggal menyisakan un-tuk undangan di DIJ saja. “Sebenarnya 1.100 undangan sudah selesai, tadi (kemarin) malam tambah 60 lagi. Seperti-nya masih akan tambah lagi,” ujar Iskandar yang mengaku setiap malam bertandang ke Puro Pakualaman untuk up-date undangan tersebut.

Kebetulan pula, rumahnya be-rada di sebelah barat Puro Pa-kualaman, sehingga memudah-kan untuk berkomunikasi lang-sung dengan panitia. “Di barat-nya rumah Pak Angling (KPH Anglingkusumo),” ujar alumni Seni Kriya Akademi Seni Rupa Yogyakarta (ASRY) yang kini be-rubah menjadi ISI Jogja.Untuk jenis tulisan, Iskandar mengaku, itu merupakan bentuk kaligrafi tebal tipis. Pria kelahi-ran 6 Juni 1956 itu mengisahkan, sebelumnya mengirimkan lima jenis model tulisan. Namun akhirnya, disetujui untuk jenis tulisan tebal tipis. Tintanya, pa-nitia menghendaki dengan tinta biru. “Katanya biru memi-liki nilai filosofi, tapi pastinya tanya ke Pak Joko saja,” ujarnya.

Dalam proses penulisan, dia mengaku tidak mengalami kesu-litan. Hambatan justru datang dari daftar nama undangan yang disodorkan panitia. Iskandar mencontohkan, masih dida-pati kesalahan daftar nama dari panitia, seperti posisi nama dan gelar. “Seperti KRT Drs, harusnya kan gelar KRT me-nyatu dengan nama, harusnya Drs KRT,” terang ayah dua putra dan kakek dua cucu ini.Selain itu, Iskandar mengaku tidak mengalami kesulitan. Ter-masuk terbebani karena menu-lis undangan untuk jumeneng dalem. Terlebih, dia sudah lama mengenal KBPH Prabu Suryo-dilogo. Bahkan putra kedua Suryodilogo merupakan murid-nya di SMAN 1 Jogja yang baru lulus tahun lalu. “Yang penting mood-nya lagi baik, kalau lagi kisruh ya tidak bisa,” ungkapnya.

Untuk menjaga konsistensi tulisan, Iskandar mengaku tidak mengalami kesulitan. Sebab, dia sudah terbiasa menulis kaligra-fi. Diakuinya, kalau belum ter-biasa, huruf di depan dan belakang bisa berbeda. Terlebih dia juga terbiasa menulis nama untuk ijazah siswanya. “Sudah terbiasa nulis, ya enjoy saja,” tuturnya.Rasa enjoy tersebut juga mem-buatnya tidak memikirkan im-balan dari Puro Pakualaman atas jasanya menulis nama undangan tersebut. Menurut dia, sudah menjadi kepuasan batin bisa dipercaya untuk ambil bagian dalam sejarah Puro Pakualaman. “Karya saya bisa dinikmati orang sudah senang,” ujar Iskandar yang pada 1990-an awal pernah pameran ke Malaysia dan Bru-nei bersama pelukis muslim Jogja yang saat itu diketuai Amri Yahya.

Kepala SMAN 1 Jogja Rudi Prakanto mengenal Iskandar sebagai guru seni lukis yang sangat mencintai karya seni. Dalam setiap kegiatan seni bu-daya, Iskandar selalu terlibat. Saat ada prosesi wayang di se-kolah, jelas Rudi, Iskandar ikut nggending sekaligus sebagai pranata acara. “Pak Iskandar ini juga sebagai instruktur dan narasumber un-tuk kurikulum 13, tulisannya memang bagus, tidak heran jika dipercaya Puro Pakualaman,” ujarnya. (ila/ong)