GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
STERIL DARI PKL: Pejalan kaki melintas di depan Gedung Agung atau Istana Kepresidenan yang telah dipasangi pagar portabel pembatas di kawasan Titik Nol Kilometer, Jogja, Selasa (5/1). Pemasangan pagar portabel itu bertujuan mensterilkan kawasan tersebut dari pedagang kaki lima (PKL) yang kerap berjualan, sehingga kesan bersih dapat terwujud.
JOGJA – Evaluasi uji coba Malioboro pe-destrian saat malam tahun baru telah sele-sai dilakukan. Hasil sementara, Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA) yang menjadi tempat untuk menampung limpahan kendaraan roda dua dari Malio-boro ternyata tidak muat. Tak semua ken-daraan bisa tertampung di tempat parkir portable tersebut. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ma-lioboro Syarif Teguh mengungkapkan, pi-haknya mengkhawatirkan dengan kapasitas TKP ABA. Jika melihat jumlah sepeda mo-tor yang memarkirkan kendaraannya di sana saat uji coba pada malam tahun baru, program pedestrian Malioboro terancam bermasalah. “Ini yang saat ini sedang kami bahas dengan pihak-pihak terkait,” terang Syarif, kemarin (5/1).TKP ABA, telah selesai dibangun akhir tahun silam
Tempat parkir portable kedua di Kota Jogja itu diproyeksikan menampung semua kendaraan pengunjung Malioboro, baik se-peda motor, mobil, maupun bus. Untuk bus dan kendaraan roda empat lainnya disediakan di lan-tai bawah. Sedangkan sepeda motor di lantai dua dan tiga.Daya tampung tempat parkir yang pembangunannya meny-edot dana keistimewaan tersebut masih terbatas. Untuk kenda raan roda dua, hanya cukup untuk menampung 2.600 kendaraan, sedangkan di lantai satu hanya cukup untuk 40 bus.Jumlah kendaraan yang terba-tas inilah yang menambah sulit penataan parkir di Malioboro. Syarif mengaku, pihaknya harus melakukan konsolidasi kem-bali dengan pelaku parkir di sisi timur Jalan Malioboro. Sebab, dengan lahan yang terbatas itu, tak semua juru parkir bisa pin-dah di sana. “Itu yang sampai sekarang masih akan kami la-kukan,” tandasnya.Dia menambahkan, program relokasi parkir di sisi timur Ma-lioboro harus berjalan. Jika tidak, maka akan menjadi masalah. “Artinya, tahun ini, TKP ABA bisa dimanfaatkan,” ungkapnya tanpa menyebut sisi timur Malioboro sudah steril dari parkir roda dua.

Di sisi lain, Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sigit Karsana Putra menegaskan, mereka tetap menolak rencana relokasi ter-sebut. “Sampai saat ini, pemkot tidak memberikan jaminan bagi kami. Bagaimana kami bisa setuju?” tuturnya.Dia mengungkapkan, juru par-kir di Malioboro tetap mendukung penataan Malioboro. Asalkan, itu hanya penataan. Bukan berupa penggusuran yang men-gorbankan mata pencaharian dari ratusan juru parkir di se-panjang jalan yang tak sampai dua kilometer itu. Sebelumnya, Kepala Dinas Pe-kerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mi neral (PUPESDM) Rani Sjamsinarsi menegaskan, revitalisasi Malio-boro tahun ini menyentuh sisi timur jalan. Yakni berupa peng-embalian wilayah pedestrian dengan merelokasi parkir ke TKP ABA. Dia menambahkan, grand design Malioboro sudah selesai. Tinggal detail dari desain tersebut berupa pernik atau corak. ” Secara bertahap, relokasi akan terus ber-jalan,” kata Rani. (eri/jko/ong)