Hendri Utomo/Radar Jogja
RAMAI KEMBALI: Pembeli antre BBM di SPBU Wates, kemarin (5/1). Mereka menyambut gembira harga baru BBM, kendati nilai penurunannya tidak terlalu signifikan.
 

KULONPROGO – Perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terlalu sering, ternyata cukup merepotkan para pengusahan SPBU. Termasuk penurunan harga BBM yang terjadi kali ini, pengelola SPBU berharap harga delivery order (DO) yang sudah terlanjur diajukan sebelumnya, juga ikut turun.

“Jika harga DO turun, SPBU tidak perlu menanggung rugi. Namun jika tidak, ya rugi kami,” terang pengelola SPBU Wates Fitroh Nurwijoyo Legowo kemarin (5/1).

Sementara itu, informasi turunnya harga BBM direspons masyarakat dengan menunda beli. Masyarakat memilih bertahan untuk tidak melakukan pengisian hingga harga BBM benar-benar turun.

“Penurunan angka penjualan terjadi pada semua jenis BBM dan terjadi jelang tahun baru lalu. Karena informasinya BBM turun tanggal 2 atau 5 Januari. Masyarakat cenderung menunggu harga baru,” kata Fitroh.

Dijelaskan, penurunan daya beli paling signifikan terjadi pada produk premium. Sebelum kabar BBM turun, SPBU Wates rata-rata bisa menjual premium 2.000-2.200 liter per hari. “Jelang tahun baru penjualan hanya sekitar 1.600 liter per hari, bahkan terus turun hingga 1.300 liter pada 31 Desember 2015 lalu,” jelasnya.

Menurut Fitroh, daya beli BBM jenis lain juga mengalami penurunan. Pertamax yang sebelumnya mencapai 3.000 – 3.500 liter per hari, turun menjadi 2.000 liter – 2.200 liter. Pertalite yang biasanya terjual 900 -1.000 liter per hari, juga berkurang menjadi sekitar 800 liter per hari.

“Rata-rata semua mengalami penurunan, kecuali biosolar yang konsumennya memang kalangan tertentu. Konsumsi mulai normal kembali hari ini, setelah harga BBM resmi dinyatakan turun,” ujar terang Direktur Perusahaan Daerah Aneka Usaha Kulonprogo itu.

Sementara bagi masyarakat, turunnya harga BBM disambut gembira. Kendati bagi sejumlah pengecer dinilai merugikan, karena harus menyesuaikan harga BBM baru setelah telanjur kulakan BBM sebelum BBM turun.

“Meringankan, tapi bagi pengecer seperti saya ya rugi, karena sudah beli sebelum BM turun. Saya juga masih bingung mau menjual dengan harga berapa untuk bensin eceran,” keluh Eri Purwanto. (tom/laz/ong)