SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
PENGHORMATAN TERAKHIR: Jenazah almarhum Edhie Soenarso, maestro seniman patung dimakamkan secara militer, kemarin (5/1).
SLEMAN – Maestro seni patung Indonesia, Edhi Soenarso tutup usia dalam usia 83 tahun. Semasa hidupnya, Edhi, panggilan akrabnya, sudah berkarya merancang Patung Dirgantara yang selama ini dikenal sebagai Patung Pancoran serta monumen ternama lainnya. Edhi meninggal pada Senin (4/1) malam pukul 23.15 WIB di RS Jogja International Hospital (JIH) Condongcatur, Depok, Sleman.

Jenazah dimakamkan di makan seniman Giri Sapto Imogiri, kemarin (5/1).Pemakaman Edhi dilakukan dengan cara militer. Dalam kesempatan ini Kodim 0732 Sleman mengawal dengan upacara militer. Hal ini dilakukan sebagai penghargaan atas perannya dalam kemerdekaan Republik Indonesia pada masa itu.

Upacara militer dilakukan di kediaman rumahnya jalan kaliurang KM 5.5. Tepatnya Desa Nganti RT 02, RW 07, Jalan Cempaka No. 72, Mlati , Sleman. Sebelum dimakam-kan terlebih dahulu disemayamkan di Kampus ISI Jogjakarta. Ini sebagai wujud penghormatan terakhir atas jasanya dalam dunia seni di Indonesia.Edhi meninggalkan empat anak. Mereka adalah Rosa Arusagara, Titiana Irawani, Satya Rasa, dan Saru Prasetya Angkasa. Adapula satu anak angkat Sambodo Harjanto. Dari seluruh anaknya ini, Edhi memilki 11 cucu.

Semasa hidupnya, Edhi Sunarso adalah pemahat patung kepercayaan Soekarno yang lahir di Salatiga pada 2 Juli 1932. Almarhum belajar mematung saat menjalani masa-masa sebagai tawanan perang KNIL di Bandung. Dia lalu menempuh jalur pendidikan di ASRI dan Kelabhawa Visva Bharati University Santiniketan, India.Karya-karya Edhi telah mewarnai wajah Indonesia sejak era pasca kemerdekaan. Mulai Monumen Selamat Datang yang dibangun tahun 1962 di Jakarta, Monumen Tugu Muda di Semarang, Monumen Yos Sudarso di Biak , Papua. Hingga diorama sejarah di Monumen Nasional Jakarta, Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Monumen Jogja Kembali Jogjakarta dan Museum Benteng Vredeburg.

Meski beberapa tahun ini mengenakan kursi roda, Edhi tetap aktif berkarya. Salah satu karya terbarunya adalah Monumen Pala Cengkeh di Ternate Maluku Utara. Karya ini baru saja dipasang akhir Desember 2015. “Bapak memang sudah kena stroke tapi sudah lama. Meski begitu masih bisa jalan, tapi jaraknya tidak panjang. Karya terakhir yang diawasi langsung oleh beliau adalah Monumen Pala Cengkeh di Ternate. Ide dari bapak namun untuk pengerjaan langsung oleh asistennya,” kata anak ketiga almarhum, Satya Rasa. (dwi/jko/ong)