JOGJA – Terjadinya beberapa kasus orang hilang secara misterius di DIJ, menimbulkan kekhawatiran Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) DIJ. Ada dugaan, orang-orang yang hilang mesterius tersebut ke arah radikalisme.

“Yang perlu diantisipasi, adalah menjaga ke-Indonesiaan warga. Ada indikasi mereka yang menghilang itu ikut gerakan yang mengarah ke radikalisme,” ujar Kepala Kesbanglinmas DIJ Agung Supriyono ketika ditemui di DPRD DIJ kemarin (6/1).

Menurut dia, sejak lama di Indonesia sudah tertanam semangat Bhineke Tunggal Ika, sehingga tidak menonjolkan keagamaan tertentu. Namun saat ini pihaknya menjadi heran, tiba-tiba di Jogjakarta belakangan ini dihebohkan dengan orang-orang yang hilang secara misterius, bahkan harus membawa anggota keluarga.

Tak hanya pihaknya, menurut Agung, fenomena orang hilang ini juga membuat bingung para aparat keamanan, termasuk kepolisian. Informasi soal sebab hilangnya warga itu masih simpangsiur.. “Yang jadi pertanyaan, kenapa terjadi di Jogjakarta,” tandasnya.

Dikatakan, keluarga yang ditinggalkan oleh orang hilang tersebut, kemungkinan besar tahu sebab mereka meninggalkan rumah dan keluarga. Namun tidak tahu harus berbicara apa. Ada ketakutan-ketakutan untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang membuat keluarga mereka menghilang. “Tidak mungkin keluarga itu tidak tahu. Keluarga tahu hubungan sebelumnya. Tetapi untuk ngomong ada indikasi apa itu, mereka tidak berani,” kata Agung.

Di DIJ, jelas Agung, upaya menjaga keamanan wilayah sudah diatur dengan Pergub Nomor 9/2015 tentang Jaga Warga. Dalam Pergub tersebut, Jaga Warga berasal dari warga masyarakat kampung setempat, yang berfungsi untuk penanganan dan penyelesaian masalah sosial di kampung.

Terpisah, Komandan Korem (Danrem) 072 Pamungkas Brigjen TNI Stephanus Tri Mulyono saat ditemui di Kepatihan mengaku belum ada informasi terkait kabar beberapa orang hilang di DIJ, yang diduga bergabung dengan gerakan radikal. Pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan kepolisian, yang saat ini sedang menyelidiki kasus tersebut. “Saya belum tahu, selama ini kan juga masih ditangani Polri,” ungkapnya.

Seperti diketahui, minggu-minggu ini dikabarkan ada beberapa orang yang menghilang secara misterius. Setelah dr Rica Tri Handayani yang menghilang sejak 30 Desember 2015 bersama anak balitanya, terdapat pula PNS di RSUP dr Sardjito yang telah meninggalkan pekerjaanya dalam dua bulan terakhir. Humas RSUP dr Sardjito dr Tresno Heru Nugroho mengakui hal itu, bahkan sempat didatangi personel Badan Intelejen Negara (BIN). (pra/jko/ong)