SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
MENOLAK: Kuasa Hukum Wilmar Sitorus, dan KPH Wiroyudho (kanan) saat press conference di Hotel Crystal Lotus dalam menyikapi prosesi jumenengan KBPH Prabu Suryodilogo jadi KGPAA Paku Alam X, kemarin (6/1).
Jumenengan Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X yang digelar hari ini (7/1), tampaknya mendapatkan sedikit ganjalan. Pasalnya, kerabat Puro Pakualaman dari kubu Paku Alam IX Alhaj Anglingkusumo menyatakan menolak Jumenengan KBPH Prabu Suryodilogo menjadi PA X.

MEREKA secara tersirat menyebut KBPH Prabu Suryodilogo bisa jadi bukan anak kandung dan lahir di luar ikatan resmi per-nikahan. Penolakan tersebut secara resmi di bacakan saat menggelar konferensi pers di Hotel Crystal Lotus, Jalan Magelang, Sleman, Rabu (6/1).Menanggapi tudingan itu, Penghageng Urusan Pam-budaya Puro Pakualaman KPH Kusumo Parastho mengungkapkan, mengenai tanggal pernikahan dan tanggal lahir tersebut, pihaknya tidak mempermasalahkan
Juru bicara Paku Alam IX Alhaj Anglingkusumo, KPH Wiro yudho menjelaskan, penolakan te rsebut didasarkan pada kriteria untuk menjadi PA harus anak kandung yang dilahirkan dalam ikatan pernikahan. “Ini kriteria krusial yang tidak dimiliki RM Wijoseno Hario Bimo (nama kecil KBPH Prabu Suryodilogo) yang mau diangkat jadi Paku Alam X,” katanya pada wartawan.

Menantu Anglingkusumo itu membeberkan data yang menunjukkan Wijoseno Hario Bimo lahir pada 15 Desember 1962. Akan tetapi fakta dan bukti yang diklaim dimiliki kubu Anglingkusumo menyatakan pernikahan BRM Ambarkusumo atau Paku Alam IX dengan Koesoemarini pada 27 Feb ruari 1963 dengan status jejaka dan perawan.Menurut KPH Wiroyudho, dengan demikian data tersebut menunjukkan KBPH Suryo dilogo lahir sebelum pernikahan. “Ka-mi tidak menuduh, tapi fakta yang kami temukan seperti itu. Silakan nilai sendiri, kami tak mau menuduh hal-hal yang bisa menjadi gugatan,” ungkap-nya.

Oleh karena itu, pihaknya akan menempuh jalur hukum untuk menggugat Jumenengan Paku Alam X. Mereka akan menggu-gat pidana dan perdata. “Kami hanya ingin kebenaran ditegak-kan, sehingga upaya pidana dan perdata akan kami tempuh,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan, meski ada kejanggalan, namun pihaknya tak akan bertindak gegabah, selain upaya hukum. Wiro yudho juga membantah akan menge-rahkan massa yang akan meng-ganggu jalannya jumenengan hari ini. “Kami tidak akan melakukan perlawanan cara preman, kami ini orang terdidik. Jadi Paku Alam X jangan parno (ketakutan), sampai penjagaan sebegitunya,” tandasnya.

Wiroyudho menegaskan, pihaknya dan pihak Wijoseno Hario Bimo masih termasuk keluarga. Karena itu, dia me-ngetahui alur silsilah dan sejarah dalam keluarga. “Kami memi-liki bukti-bukti yang kuat, se-hingga kami menyatakan pe-nobatan Hario Bimo sebagai Paku Alam tidak sah,” tandasnya.Bukti-bukti tersebut akan me-reka gunakan dalam proses gugatan. Gugatan tersebut, me-nurutnya, dalam rangka menegak-kan keadilan. Sebab takhta atau yang berhak menjadi raja haruslah orang yang sah. “Kami hanya ingin rakyat tahu, siapa yang lebih berhak dan tidak,” jelasnya.

Dalam membacakan pernya-taan, KPH Wiroyudho didampingi kuasa hukum Wilmar Sitorus, KRTH Widjajadiningrat, dan KRT Arifin Wardiyanto Wirobimo sebagai staf khusus Bidang Hukum PA IX Anglingkusumo. Sementara itu, Penghageng Urusan Pambudaya Puro Pa-kualaman KPH Kusumo Parastho menyebut, mengenai tanggal pernikahan dan tanggal lahir itu tidak ada masalah. “Mungkin ini benar juga, tapi pegangannya pratondo asal. Beliau (RM Wijoseno Hario Bimo) garisnya paduka PA IX, jadi tidak terlalu masalah,” ujarnya kepada war-tawan di Puro Pakualaman, Rabu (6/1).

Menurutnya, bisa jadi per-nikahan memang terjadi sebe-lumnya dan baru dilaporkan secara administrasi di kemudian hari. Mengenai gugatan yang akan dilayangkan kubu Angling-kusumo, pihaknya juga tidak mempermasalahkan. “Tidak setuju malah bagus, pangeran jadi akan berhati-hati,” jelasnya.Status RM Wijoseno Hario Bimo sebagai putra KPH Ambarkusumo, menurutnya, juga diakui oleh PA sebelumnya sebagai cucunya. “Itu ada sil-silahnya, pratondo asal itu kuncinya,” tandasnya.

Keabsahan pratondo asal itu juga yang menjadi dasar pe-ngangkatan Bendoro Raden Mas (BRM) dan Pangeran Patih. “Kita atasi dengan pratondo asal. Dulu ada raja punya prameswari dan ampean. Yang penting ada pratondo asal, ada kan kalau di ketoprak yang mengaku-ngaku raja ya anak raja. Dengan pra-tondo asal urutannya jelas,” paparnya. Lebih lanjut, Kusumo me-ngungkapkan, adanya ganjalan ini diibaratkan sebagai godaan. Walaupun Tuhan selalu ber harap manusia bertindak lurus, tetapi Tuhan menciptakan manusia disertai dengan banyak godaan. Karena itu, apabila PA IX Ang-lingkusumo akan mengajukan gugatan, dia mempersilakannya. “Ditanggapi positif saja,” ung-kapnya.

Dari pantauan Radar Jogja, beberapa persiapan terus di geber jelang Jumenengan PA X, Kamis (7/1) ini. Tenda-tenda, kursi, dan pemeriksaan undangan sudah ada di bagian pintu masuk. Ter-masuk ucapan selamat berupa karangan bunga dari banyak kalangan dan tokoh-tokoh nasional di depan gerbang Puro Pakualaman. (riz/ila/ong)