SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
 
JOGJA – Ribuan masyarakat Jogjakarta antusias melihat Kirab Ageng yang digelar Puro Pakualaman, Kamis (7/1). Rombongan kirab berangkat dari bangsal Sewotomo, sekitar pukul 14.50 WIB. Kirab ini dilaksanakan setelah prosesi Jumenengan Dalem KGPAA PA X yang digelar pada pagi harinya.

Kirab diawali dengan marching band dari Akademi Angkatan Udara (AAU) Jogjakarta, pasukan gajah yang berjumlah tujuh ekor, Prajurit Lombok Abang dan pasukan berkuda. Lalu disusul Kereta Kyai Manik Koemolo yang dinaiki KGPAA Paku Alam X.

Dibelakangnya, terdapat kereta ampilan dari Keraton Jogja Kyai Rejo Pawoko, kereta Kyai Jaladara, dan Kyai Roro Kumenyar. Kemudian disusul kereta Kyai Brojonolo dan Kyai Manik Brojo. Kereta-kereta tersebut dikawal pasukan berkuda. Yang menarik salah satu pemimpin pasukan berkuda adalah Indro Warkop.

Sementara Rute Kirab Ageng dimulai dari Puro Pakualaman – Jalan Sultan Agung – Jalan Gadjah Mada. Kemudian menuju Jalan Bausasran – Jalan Gayam – Jalan Cendana – Jalan Kusumanegara – Jalan Sultan Agung dan kembali ke Puro Pakualaman.

Sepanjang kirab, KGPAA PA X yang menggunakan pakaian kebesaran bercorak emas terus melempar senyum kepada warga yang telah memadati ruas-ruas jalan. Tangan PA X sesekali disatukan untuk memberi penghormatan kepada masyarakat. “Matur nuwun sanget (terima kasih banyak),” ucapnya.

Salah seorang warga Sleman, Wahyu mengaku sengaja mendatangi Puro pakualaman untuk melihat dari dekat sosok PA X yang baru saja dinobatkan. “Sejak siang tadi ke sini untuk melihat kirab,” katanya.

Acara prosesi Jumenengan Dalem KGPAA PA X ini juga memberikan dampak positif terhadap okupansi hotel di DIJ. Ratusan tamu dari luar Jogjakarta yang menghadiri prosesi jumenengan banyak yang memilih tinggal di sejumlah hotel.

Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jogjakarta Deddy Pranowo Eryono mengatakan, acara Jumenengan KGPAA PA X memberikan angin segar bagi pelaku usaha perhotelan. Sebab, ada kenaikan okupansi.

“Cukup menggembirakan meskipun tak seramai liburan akhir tahun kemarin. Jumlah hunian kamar ada peningkatan,” kata Dedy kepada wartawan di Puro Pakualaman, Kamis (7/1)
Menurutnya, dari rata-rata tingkat hunian biasanya 65 persen, berubah menjadi 70 persen sebagai efek dari acara jumenengan ini. Ada kenaikan sekitar lima persen. “Persentasinya, 60 persen menginap di hotel bintang, dan 40 persen menginap di nonbintang,” ujarnya.

Menurut Deddy, meski kenaikannya tak signifikan, tapi mampu membuktikan bahwa Jogjakarta menjadi daerah istimewa sebagai destinasi seni. Event budaya tersebut, lanjutnya, belum tentu ada di daerah lain. “Efek budaya masih ada. Ini menjadi berkah tersendiri,” ujarnya.

Dalam acara jumenengan, ratusan tamu hadir di Puro Pakualaman. Dari banyaknya tamu itu, terdapat pula sejumlah pejabat negara, hingga raja-raja dari seluruh Nusantara. “Tamu-tamu beliau (Paku Alam X) juga banyak menginap di hotel. Berdampak positif untuk pengelola hotel,” tandasnya. (riz/ila/ong)