GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA FILE
SEJAJAR: KGPAA Paku Alam X memberikan salam bersama Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 seusai prosesi Jumenengan Dalem. Foto kanan, salam yang diberikan KGPAA PA IX kepada Raja Jogja.

ADA yang berbeda saat KGPAA Paku Alam X memberikan salam hormat pada Sultan Hamengku Bawono Ka 10. “Kalau sudah menjadi adipati mestinya cara menghormat dengan Ngarsa Dalem bukan menyembah, tapi hormat karna,” ungkap kerabat Pakualaman KGPH Widjojokusumo, kemarin (7/1).

Ini masukan yang disampaikan untuk keponakannya yang baru saja jumeneng nata. Adipati kesepuluh Kadipaten Pakualaman itu disarankan lebih memperhatikan pranatan saat berhubungan dengan Sultan Hamengku Bawono Ka 10.

Selama acara, setelah penobatan, KGPAA PA X terlihat dua kali menyembah HB Ka 10. Pertama, saat turun dari dampar (singgasana), PA X lalu menghampiri Raja Keraton Jogja tersebut. Kedua, ketika HB Ka 10 didampingi GKR Hemas dan putri serta menantu hendak berpamitan meninggalkan lokasi acara.

“Kalau sudah merasa menjadi adipati, cara hormatnya harus hormat karna,” ulangnya.

Hormat karna adalah tata cara penghormatan antara sultan dan adipati. Bentuknya kedua tangan diangkat ke atas sejajar kuping, mirip orang takbir saat akan menjalankan salat.

Kebiasaan itu selalu dilakukan ayahnya PA VIII saat bertemu dengan HB IX maupun HB X. Dia juga melihat mendiang kakaknya PA IX Ambarkusumo juga melakukan hal sama.

“Kebiasaan itu harus ditradisikan. Mungkin saja tadi lupa atau karena belum biasa. Maklum baru beberapa menit dinobatkan,” katanya.

Sebagai paman, Widjojokusumo juga menyarankan saat mengenakan busana adat agar jangkep atau lengkap. Sebab, ketika jumenengan, PA X menggunakan busana dan blangkon gagrak Jogja. Namun keris yang terselip ternyata masih memakai gayaman gaya Surakarta.

“Harusnya tetap Jogja. Itu kerisnya Kanjeng Kyai Bontit, kembarannya sekarang saya pakai Kanjeng Kyai Gupito,” ucap Widjojo sambil menunjukkan keris yang dimaksud.

Selama acara, Widjojokusumo memilih busana kepangeranan gaya Solo sebagaimana dulu biasa dipakai ayahnya PA VIII. “Semua keris Pakualaman zaman PA VIII itu gaya Solo. Ini karena beliau cucu Paku Buwono X. Termasuk keris yang dulu diberikan kepada almarhum Mas Ambar,” terangnya.

Pengamat Keistimewaan DIJ Heru Wahyu Kismoyo membenarkan, saat bertemu dan berpisah Sultan dan Paku Alam selalu mengawali dengan sembah karna mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan Allah Akbar sebelum saling salaman. Ini karena Sultan dan Paku Alam sama-sama khalifatullah pemimpin kerajaan dan kadipaten penerus Dinasti Mataram Islam.

“Saya tidak tahu kenapa PA X tidak melakukan itu. Semoga itu karena lupa dan bukan karena sultan telah mengganti namanya menjadi bawono dan melepas gelar khalifatullah,” ujarnya. (kus/ila/ong)