GUNUNGKIDUL – Kebijakan pemerintah pusat menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) sejak 5 Januari lalu, belum berdampak terhadap tarif angkutan umum di Gunungkidul. Organisasi Angkutan Darat (Organda) Gunungkidul, hingga kini belum ada keputusan menyikapi perubahan tarif.

Sekretaris Organda Gunungkidul Wasdiyanto mengatakan, hingga saat ini belum ada keputusan untuk menurunkan tarif angkutan. Pihaknya baru akan melakukan rapat dengan pengurus organda provinsi Senin (11/1) pekan depan.

“Senin depan kami mendapatkan undangan untuk rapat di kantor Organda DIJ. Tapi saya belum tahu tentang apa, kemungkinan terkait dengan penurunan tarif BBM itu,” kata Wasdiyanto kemarin (7/1).

Dia menjelaskan, hasil rapat pengurus organda provinsi nanti akan disampaikan kepada seluruh anggota di daerah untuk disikapi bersama. Pihak yang terlibat di dalamnya seperti pengusaha angkutan umum akan dikumpulkan. “Nanti Organda Gunungkidul siap melaksanakan apa yang sudah ditetapkan,” ujarnya.

Ada pun tarif angkutan yang masih berlaku di Gunungkidul, untuk angkutan jurusan Wonosari-Jogja Rp 10 ribu per orang. Sementara untuk angkutan desa (angkudes), besaran tarifnya bervariasi antara Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu tergantung jarak tempuh. “Kami masih menunggu keputusan organda dan dinas perhubungan. Sampai sekarang tarifnya belum turun,” kata Suroto.

Dia menjelaskan, meski BBM turun bukan berarti bisa berpengaruh terhadap tarif angkutan. Karena masih banyak komponen lain untuk menentukan tariff angkutan, semisal soal suku cadang, gaji sopir dan kernet, dan lain lain.

Lebih jauh dijelaskan, sebagai contoh penurunan jumlah penumpang yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pemicunya, banyak yang beralih menggunakan kendaraan pribadi atau sepeda motor untuk bepergian, membuat pendapatan sopir menurun drastis. “Bayangkan, dalam sekali jalan (pulang-pergi), sopir hanya peroleh Rp 40 ribu, padahal jaraknya sekitar 15 kilometer,” kata Suroto.

Menurut dia, sepinya penumpang dalam beberapa waktu terakhir juga membuat jumlah armada angkutan desa yang beroperasi semakin berkurang. Dari data awal sebanyak 350 unit, saat ini hanya ada sekitar 200 angkutan beroperasi. (gun/jko/ong)