JOGJA – Parkir Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) tahun lalu menjadi masalah serius. Wisatawan yang akan mengunjungi keraton terpaksa berhenti di tengah jalan. Agar tidak terulag lagi tahun ini, panitia sekaten sudah bersiap. Mereka menyurati Pemprov DIJ dan minta adanya dispensasi penggunaan Alun-Alun Utara (Altar).

“Lokasi parkir untuk pengunjung memang kurang, sehingga banyak pengunjung yang kemudian memarkirkan kendaraannya di sekeliling Alun-Alun Utara yang menjadi lokasi penyelenggaraan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS),” ungkap Ketua Panitia PMPS Suyana kemarin (7/1).

Menurut Suyana, banyak keluhan yang masuk mengenai lokasi dan kondisi parkir. Ketersediaan lahan yang minim membuat pengunjung memarkir di badan jalan. Karenanya, Pasar Malam Perayaan Sekaten tersebut menyebabkan arus lalu lintas macet.

Pada penyelenggaraan PMPS 2015, panitia menyediaan parkir kendaraan di sisi timur Altar.Tapi, kapasitas parkir di lokasi tersebut tidak cukup untuk menampung semua kendaraan pengunjung.

Pengunjung PMPS sudah tak diizinkan memanfaatkan area Altar sebagai tempat parkir. Untuk menjaga agar saluran drainase yang berada di bawah pasir Altar tak rusak.

Menyikapi tersebut, Suyana mengatakan akan menyampaikan surat permohonan Pemprov DIJ.Mereka mengirimkan surat ke Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi Sumber Daya Mineral DIJ. Tujuannya, mendapatkan rekomendasi pemanfaatan Altar sebagai lokasi parkir saat pelaksanaan PMPS. Khususnya parkir kendaraan roda dua.

“Paling tidak dibutuhkan lahan sekitar seperempat bagian dari Altar. Untuk menampung parkir saat PMPS. Pada 2015, seluruh lahan yang ada dimanfaatkan sepenuhnya untuk peserta PMPS,” paparnya.

Salah satu cara yang akan diusulkan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian adalah memberikan semacam lapisan. Bisa berupa kayu atau bahan lain, agar kendaraan tidak langsung membebani saluran drainase yang ada.

Selama pelaksanaan PMPS, Suyana memastikan seluruh peserta, khususnya stan permainan tidak ada yang melanggar aturan dengan memasang pasak di Altar.

“Semuanya mengikuti ketetapan yang disyaratkan, sehingga tidak ada galian pasak. Harapannya, kondisi alun-alun tetap baik,” katanya.

Demikian pula untuk waktu pelaksanaan PMPS, dibuat lebih singkat. Yaitu, hanya tiga pekan. Padahal, pada pelaksaanan tahun sebelumnya, berlangsung hingga 40 hari.

“Ada harmoni yang baik antara aspek ekonomi dan tradisi. Karena inti dari Sekaten hanya satu pecan, yaitu saat keluarnya gamelan dari keraton dan ditabuh di Masjid Gedhe Kauman,” tuturnya.

Wali Kota Haryadi Suyuti juga menyebut, akses pengunjung PMPS perlu dibenahi, sehingga semuanya tertata. Khususnya area parkir.

“Banyak pengunjung yang memilih memarkirkan kendaraannya di sekitar alun-alun, karena tidak perlu berjalan jauh. Lokasi parkir harus menjadi target evaluasi, sehingga penyelenggaraan PMPS tahun berikutnya bisa lebih baik,” katanya.(eri/hes/ong)