SLEMAN-Dalam dua pekan ke depan seluruh kandang ternak babi di Dusun Gancahan VIII, Sidomulyo,Godean harus bersih. Itu adalah tenggat waktu yang diberikan Satpol PP Sleman berdasarkan hasil dialog warga dengan aparat Muspika di aula Kantor Kecamatan Godean kemrin (7/1).

Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah objektif sekaligus mencegah tindak anarkis. Sebab, warga yang mendapat dukungan puluhan orang anggota ormas tertentu berniat menutup kandang ternak tersebut, jika aparat tidak segera bertindak.

Satpol PP sebenarnya telah berencana menutup kandang babi pada Senin (4/1). Tapi,hal itu urung dilakukan dengan alasan tertentu.

Kasi Penegakan Perundang-undangan Satpol PP Sleman Rusdi Rais menuturkan, para peternak babi diberi waktu dua pekan untuk memindahkan hewan piaraan atau menjualnya. Jika sampai batas waktu yang ditentukan kandang masih beroperasi, Satpol PP akan menutup paksa. “Tanggal 24 Januari harus sudah kosong,”tegasnya.

Rusdi berdalih, sikap pemerintah bukan lantaran ada ancaman atau desakan ormas. Tapi, semata-mata akibat ketidakpatuhan pemilik kandang. Apalagi, usaha ternak tak memiliki izin dan mencemari lingkungan. Satpol PP bertindak atas dasar laporan warga. “Kalau kami tutup paksa kemarin (Senin) tak akan menyelesaikan masalah. Babi-babi mau ditaruh mana,” ungkapnya
Camat Godean Ahmad Yuno Nurkaryadi mengatakan, tidak akan cawe-cawe soal pemindahan ternak babi. Alasannya, pemerintah kecamatan tidak punya tempat untuk menampung ternak. Sebab, sebagian besar lanah kas desa berada di tengah permukiman penduduk. “Itu tanggung jawab peternak,” ujarnya.

Yuno mengingatkan, peternak harus memperhatikan kondisi lingkungan sebelum membuka kandang.

Wahyu, salah seorang warga RT 07 Gancahan, mengaku keberadaan kandang ternak sangat mengganggu. Selain mencemari lingkungan, kotoran babi menimbulkan polusi bau. Terlebih, limbah ternak dialirkan ke sungai. Status kewargaan pemilik ternak juga disoal. Menurut Wahyu, mereka berasal dari Seyegan.(yog/din/ong)