GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RENDAH HATI: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X menyaksikan Tari Beksan Angron Akung usai prosesi jumenengan dalem di Puro Pakualaman, kemarin (7/1).

Tak Pernah Tunjukkan Diri sebagai Keturunan Raja

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X yang baru dilantik kemarin (7/1), ternyata sudah dikenal memiliki jiwa kepemimpinan sejak duduk di bangku sekolah. Dia juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Bahkan, tak pernah sekalipun menunjukkan diri sebagai seorang ningrat.

HERU PRATOMO, Jogja

SOSOK KGPAA PA X dikenal memiliki jiwa kepemimpinan sejak sekolah. Hal itu diakui oleh teman SMP PA X, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Mereka merupakan rekan sekelas semasa sekolah di SMP 11 Jakarta.

“Beliau (PA X) merupakan teman sekelas di SMP, dari dulu sudah terlihat kepemimpinannya,” ujar Lukman seusai menghadiri jumeneng dalem PA X, kemarin.

Menurutnya, semasa sekolah dulu, PA X tidak pernah menunjukkan dirinya sebagai keturunan raja. Selain itu, juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati. “Tidak pernah menunjukkan kalau berasal dari keluarga keraton,” tandasnya.

Menteri yang berasal dari PPP tersebut yakin teman sekelasnya ini bisa mengemban amanah yang diperolehnya saat ini. Menurutnya, pemilik nama kecil Raden Mas Wijoseno Hario Bimo itu mampu melanjutkan kepemimpinan almarhum ayahnya Paku Alam IX.

Lukman berharap, rekannya tersebut dapat menjaga kebudayaan dan nilai-nilai luhur Puro Pakualaman. “Pesan saya, beliau mampu mengayomi semua masyarakat dan mau mendengar aspirasi warga Jogjakarta. Serta bisa melestarikan nilai budaya dan nilai luhur,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Anies Baswedan yang hadir langsung dalam jumeneng dalem KGPAA PA X menyambut baik pesan yang disampaikan dalam sabda pertama PA X.

Menurut Anies, pesan PA X menarik. Karena pada satu sisi akan melestarikan dan mengembangkan kebudayaan. Tapi, pada saat bersamaan berhadapan dengan modernisasi. “Saya percaya PA X mampu menjalankan dengan baik,” ujar Anies.

Anies yang datang bersama putranya tersebut mencontohkan perubahan yang terjadi di Jogja. Menurut Anies, di tengah modernisasi, Jogja ternyata masih bisa merawat tradisi-tradisi yang ada. Dia berpesan agar hal tersebut bisa dipertahankan. “Modern dalam arti ekspresi, dan menjaga tradisi dalam arti nilai-nilai,” tuturnya.

Harapan serupa disampaikan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti dan Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono yang juga menjadi saksi penobatan PA X. Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengharapkan PA X yang menggantikan ayahandanya yang meninggal 21 November 2015 lalu itu bisa melengkapi keistimewaan DIJ.

“Keistimewaan DIJ tentu tidak lepas dari keberadaan Pakulaman, saya harap bisa melengkapi keistimewaan DIJ dengan segala bentuk rupa dan komitmen budayanya,” jelas HS, sapaannya.

HS menambahkan, Kadipaten Pakualaman yang secara administratif masuk dalam wilayah Kota Jogja diharapkan bisa bersinergi dengan Pemkot Jogja, seperti PA IX dulu. “Harapan kami, PA X juga bisa bersinergi dengan kami (Pemkot Jogja) untuk menjaga dan mengembangkan budaya sebaik-baiknya,” tuturnya.

Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono (IP) menilai pelestarian dan pengembangan budaya, bisa mewujudkan harapan manusia yang berkrepribadian dalam kebudayaan. Sehingga di era nanti tetap bisa mempertahankan nilai-nilai luhur.

Selain itu, IP mengharapkan peran PA X yang nantinya akan menduduki jabatan sebagai Wakil Gubernur (Wagub) DIJ. Sebagai seorang birokrat, diharapkan PA X dapat membantu tugas-tugas Gubernur DIJ. “Sehingga DIJ bisa tambah maju karena kepantasan beliau menjabat sebagai Adipati Pakualaman sekaligus Wagub DIJ,” tuturnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan rasa takjubnya terhadap keluarga besar atau keturunan Kerajaan Mataram. Begitu juga masyarakat setempat yang masih mempertahankan tradisi leluhur. Tetapi, di saat yang sama tak menolak sistem pemerintahan modern, termasuk keberadaan gubernur, wakil gubernur, bupati, dan wali kota.

Menurutnya, semua itu tak hanya bagian dari kearifan masyarakat, tapi keunikan yang khas. “Indonesia sugih, kaya akan budaya. Jogja dan Solo masih hidup dalam tradisi ini. Ini bisa jadikan contoh, ada di kerajaan sekaligus di pemerintahan,” katanya.

Ganjar menilai, budaya di DIJ telah menunjukkan eksistensinya di tengah kemajuan zaman dan modernisasi. Masyarakat Jogjakarta menerima dan mendukung keberadaan Keraton Jogja dan Pakualaman. “Budaya di Jogja tetap langgeng, tetap ada di Jogja. Ya, karena masyarakat mendukungnya. Saya kira, itu kuncinya,” paparnya. (ila/ong)