JOGJA – Setelah membacakan sabda jejering raja pada 31 Desember 2015 lalu, baru Jumat (8/1) kemarin, Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 berkenan angkat bicara. Ditemui di DPRD DIJ, dengan kapasitasnya sebagai Gubernur DIJ, sesaat sebelum mengikuti rapat paripurna, HB Ka 10 mau berkomentar pada wartawan.

Tapi sayangnya HB Ka 10 masih enggan menjelaskan secara rinci isi dan makna yang terkandung di dalam sabda jejering raja tersebut. “Nanti deh itu,” katanya.

Ketika didesak, HB Ka 10 juga belum mau banyak bicara tentang sabda yang dibacakannya pada hari terakhir di tahun 2015 itu. Dirinya lebih memilih memberikan kesempatan kepada media massa untuk memberitakan seputar Puro Pakualaman lebih dulu. “Biar menghargai Pakualaman dulu menjadi berita lah,” lanjutnya.

Sementara itu, sejumlah adik-adik Sultan HB X sudah melakukan pertemuan terbatas setelah munculnya sabda jejering raja Mataram. Pertemuan tersebut digelar pada Rabu malam (6/1). Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan keputusan, mengingat masih mencermati maksud dari isi sabda jejering raja tersebut.

Tapi adik tertua Sultan HB X, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto yang juga memimpin pertemuan itu menyebutkan, sabda yang dibacakan HB Ka 10 tidak memiliki legitimasi. Pada kesempatan tersebut, tidak ada rayi dalem yang datang. “Apalagi kemarin pakaian yang diagem tambah melorot hanya surjan,” ujarnya (Radar Jogja Kamis (7/1).

Sebelumnya menantu HB Ka 10, KPH Purbodiningrat menjanjikan dalam minggu ini akan ada penjelasan resmi dari Keraton Jogja terkait sabda jejering raja, yang dibacakan mertuanya tersebut. Penjelasan akan diberikan oleh kakak iparnya, GKR Condrokirono. “Jika pun Ngarso Dalem nggak bisa, di keraton kan ada Kawedanan Hageng Punokawan Panitra Pura, itu dipegang oleh GKR Condrokirono,” kata suami GKR Maduretno itu.

Meski demikian, hingga hari ke delapan, penjelasan tersebut tak segera ada. Bahkan HB Ka 10 memilih untuk memberikan kesempatan pada PA untuk lebih dulu menjadi konsumsi publik. (pra/jko/ong)