Berawal Merokok Bareng, Tunggu Selasa Wage Dipindah ke Keraton

Sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan tokoh penting dalam memerdekan Republik Indonesia. Baik perannya sebagai Raja Jogjakarta maupun kabinet yang dibangun pemerintahan Ir Soekarno. Peran ini pun diabadikan melalui patung wajah yang terlelak di jalan Batikan Jogjakarta. Sayangnya patung ini sekian lama tak terawat.

DWI AGUS, Jogja

JALAN Batikan merupakan salah satu akses penting di Kota Jogja. Apalagi setelah mengalami perbaikan, akses ini menjadi alternatif menuju Jogjakarta bagian selatan. Sebuah patung bersejarah pun menjadi tetenger jalan ini.

Sayangnya patung ini kurang disadari oleh warga yang lewat. Keberadaan patung berada di Jalan Batikan no.666, hanya tergeletak di pinggir jalan. Tanpa ada atap pelindung atau pustek menjadi singgasana sang patung.

Patung tersebut adalah sosok Raja Keraton Jogjakarta terdahulu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX. Patung setengah badan ini dipahat dalam batu yang solid. Sang raja diukir dengan seragam kebesaran militer dan dua bintang di pundak kanan dan kirinya.

“Patung ini sudah ada sejak lama di tempat itu. Tapi selama ini letaknya di pinggir jalan tanpa ada penanda khusus. Pembuatannya mungkin antara tahun 1951 hingga 1953,” kata Dosen ISI Jogjakarta Dr. Sumaryono MA ditemui di kantor Dinas Kebudayaan Jogjakarta, Jumat pagi (8/1).

Sumaryono sendiri mengetahui hal ini sejak lama. Namun keinginan hati untuk menyampaikan ke Raja Keraton Jogjakarta saat ini Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 belum tersampaikan. Hingga akhirnya kesempatan ini datang pada 25 Oktober lalu.

Pertemuan dengan Raja Jogjakarta ini terjadi ketika ada misi kebudayaan ke Jepang. Tepatnya saat menunggu waktu keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta. Saat itu dirinya diminta menemani HB Ka 10 merokok di ruang VIP salah satu maskapai penerbangan.

“Waktu itu berangkat bersama beberapa kepala SKPD di Jogjakarta. Tapi yang merokok waktu itu cuma saya. Awalnya canggung mau bicara apa, akhirnya saya beranikan diri untuk bicara tentang patung tersebut,” kenang Sumaryono.

Waktu itu dirinya melaporkan bahwa di Jalan Batikan ada patung HB IX. Sayangnya patung itu tidak terawat dengan baik. Meski secara fisik masih sangatlah bagus, namun peletakannya kurang pas.

Pria yang aktif berkesenian ini pun tak menyangka jawaban dari sang raja. Selesai menghabiskan rokoknya, HB 10 pun menghampiri beberapa kepala SKPD terkait, dan meminta keberadaan patung tersebut untuk segera dirawat di dipindahkan.

“Saya waktu matur ke Ngarso Dalem ada patung ayahanda beliau HB IX. Sempat lama beri jawabannya, kira-kira 4 hingga 5 hisapan rokok. Baru beliau minta tolong saya untuk diurus bersama kepala SKPD lainnya,” ungkapnya.

Mendapat jawaban tersebut, Sumaryono awalnya tak menyangka. Bahwa ternyata patung ini tetap memiliki makna bagi HB 10. Rencananya patung HB IX itu akan dipindahkan ke Bangsal Kasatriyan Keraton Jogjakarta.

Pemindahan patung ini direncakan 9 Februari mendatang. Pilihan tanggal itu bertepatan dengan weton HB 10, Selasa Wage. Menurut Sumaryono ini merupakan syarat untuk memindahkan patung. Syarat itu didapatkannya dari warga pemilik rumah yang selama ini merawat patung. Untuk peletakan pustek atau singgasana patung pun dilakukan lima hari sebelumnya. Bertepatan pula dengan pasaran Wage.

“Patungnya selama ini hanya torso atau setengah badan. Nah besok di keraton akan dibuatkan pustek untuk meletakkan patung. Rencana peletakan inipun tetap menggunakan petungan Jawa,” katanya.

Patung HB IX dibuat menggunakan batu padat. Sumaryono mengungkapkan sejarah patung ini cukuplah panjang. Dirinya segera mencari beberapa narasumber terlebih setelah mendapatkan lampu hijau dari HB 10.

Hal pertama yang dilakukan adalah mencari siapa seniman pembuat patung ini. Kunci pertama yang didapatkan adalah patung ini hasil karya Sanggar Pelukis Rakyat. Anggota dari sanggar ini maestro seni, seperti almarhum Affandi dan almarhum Edhie Sunarso.

Bermodalkan ini, dirinya lalu mengunjungi kediaman sesepuh pelukis Jogjakarta Joko Pekik. Dari situ, dia mendapat jalan terang bahwa pencipta patung adalah seniman Roestamadji. Dari Joko Pekik pulalah, Sumaryono mendapatkan nomor telepon keluarga sang seniman.

“Awalnya mengira karya Soedarsono, tapi setelah bertemu Pak Pekik baru tahu seniman aslinya. Almarhum Roestamadji sendiri merupakan pelukis. Jadi karya ini bisa dibilang salah satu karya patungnya. Kalau untuk izin baik dari keluarga atau yang merawat selama ini sudah boleh diboyong,” katanya.

Sosok HB IX dalam patung digambarkan mengenakan seragam militer. Bahkan di setiap pundaknya tersemat dua bintang. Ini menujukan bahwa sang raja memiliki pangkat yang tinggi. Bahkan menurut penelurusan Sumaryono, HB IX merupakan pemilik Nomor Registrasi Pokok (NRP) 0001.

Terciptanya patung ini atas inisiatif Menteri Pendidikan Kebudayaan di era 50an. Pada waktu para seniman dikumpulkan. Setelahnya diminta membuat karya seni berupa patung dan lukisan dengan objek tokoh pejuang.

“Beliau HB IX memiliki peran yang sangat penting dalam memperjuangan dan mempertahankan Kemerdekaan RI. Periode pembuatan antara 1951 hingga 1953 karena tidak langsung jadi. Ukuran tingginya sekitar 140 cm,” ungkapnya.

Sebagai tetenger sejarah bangsa, Sumaryono berharap patung ini dapat menjadi salah satu saksi sejarah di Jogjakarta. Selain itu dirinya juga berharap agar patung ini dapat menyatukan internal keraton. Pasalnya dalam peresmian, diharapkan seluruh putra dalem dapat datang dan meresmikan patung HB IX ini.

“Sebagai warga biasa saya berharap dapat berimbas pada hubungan internal. Semoga bisa diresmikan oleh seluruh putra-putra HB IX. Sehingga semuanya jadi ayem dan akur kembali seperti dulu,” harap Sumaryono.(jko/ong)