BANTUL – Musim penghujan pada awal tahun ini diprediksi hanya sebentar. Sebab, akhir Februari mendatang diperkirakan sudah memasuki awal musim kemarau.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto menyatakan, anomali cuaca pada awal tahun ini diprediksi bakal kembali berlanjut. “Sebagai dampak dari badai El Nino,” terang Dwi, kemarin (8/1).

Menurut Dwi, dampak badai El Nino di wilayah Bantul sangat terasa. Penyebabnya, suhu panas di Samudera Hindia yang notabene berada di sebelah selatan Bantul memengaruhi pembentukan awan di wilayah Bumi Projo Tamansari. Kumpulan awan akan cepat berubah menjadi air hujan. Tetapi, curah hujan tidak bisa merata. “Di wilayah sana hujan. Tapi, di wilayah sini tidak,” ujarnya.

Berdasar informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), akhir Februari sudah memasuki awal musim kemarau. Perkiraannya, musim kemarau akan berlangsung hingga bulan November.

Nah, dengan kondisi cuaca yang tak lazim ini Dwi khawatir dapat berdampak serius pada dunia pertanian. Terlebih, curah hujan pada November hingga Desember tahun lalu tidak begitu tinggi. Serapan air ke tanah tidak terlalu banyak. Karena itu, Dwi menyarankan dinas pertanian dan kehutanan maupun para petani menyikapi anomali cuaca ini. “Ini sebuah ancaman serius. Dinas pertanian harus mewaspadai ini,” tandasnya.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Suroto menyatakan, para petani sudah terbiasa dengan anomali cuaca. Sehingga dampak badai El Nino pada tahun 2015 hingga awal tahun ini tidak terlalu berpengaruh. “Petani yang lahannya jauh dari irigasi ya pakai sumur bor,” jelasnya.

Karena terbiasa, para petani pun tidak akan mengubah pola tanam pada tahun ini. Pada bulan ini, sebagian besar para petani menanam padi. “Ada juga yang menanam sayuran,” ungkapnya.

Namun demikian, para petani yang menanam padi maupun sayuran pada bulan ini sama-sama meraup untung. Sayuran seperti terong, pare maupun gambas tumbuh subur. “Yang menanam sayuran keuntungannya malah lebih besar karena tidak terlalu membutuhkan air,” tambahnya.(zam/din/ong)