SLEMAN- Penyerapan dana keistimewaan (Danais) sektor kebudayaan dan pariwisata selama 2015 memang belum sesuai harapan. Dari alokasi Rp 11 miliar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) selaku pengelola danais harus mengembalikan hingga Rp 4 miliar ke kas daerah Pemda DIJ.

Gara-garanya aturan baru pencairan dana hibah yang mengharuskan calon penerima berbadan hukum. Di luar dugaan, pada 2016 ada pemotongan danais hingga lebih separo dari alokasi awal. Disbudpar hanya memperoleh Rp 3,745 miliar.

Pemangkasan danais bukan tanpa alasan. Danais sebagian dialihkan ke sektor pertanahan dan pengendalian tata ruang. “Memang ada pengalihan prioritas program untuk 2016,”tutur Kepala Disbudpar A.A. Ayu Laksmidewi kemarin (11/1)
Pemangkasan danais otomatis berpengaruh pada program kegiatan budaya dan pariwisata yang sebelumnya disokong dengan danais. Saat ini, danais lebih diprioritaskan untuk kegiatan penting dan rutin.

Sekretaris Disbudpar Endah Sri Widiastuti menambahkan, danais akan dibagi pada empat program utama. Yakni, pengembangn kantong budaya, pengelolaan kekayaanbudaya, keragaman penyelenggaraan seni tradisional, festival, dan apresiasi bagi pelaku seni, serta kerja sama budaya.

Khusus apresiasi seniman dan festival seni tradisional mendapat porsi paling besar. Mencapai Rp2,28 miliar. “Untuk kerja sama 2016 kami rencanakan tiga kali perjalanan dinas ke daerah lain. Sekaligus sosialisasi kekayaan budaya Sleman,” katanya.

Salah satu kerja sama berupa pengiriman delegasi pentas seni di Bali.(yog/din/ong)