BANTUL – Kendati ada yang telah terbiasa, ada sejumlah kelompok tani (klomtan) yang menghadapi anomali cuaca pada tahun ini dengan harap-harap cemas. Minim atau tidak adanya mesin pompa penyedot air sebagai penyebabnya. Di sisi lain, mereka belum berbadan hukum.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bantul Suroto menyatakan, pemberlakuan Undang-undang No. 23/2014 tentang Pemerintah Daerah menjadi pukulan telak bagi sejumlah klomtan. Dampak dari regulasi itu, tidak sedikit klomtan tidak dapat menerima bantuan hibah dari pemkab. “Karena mereka belum berbadan hukum,” terang Suroto, kemarin (10/1).

Bagi klomtan yang memiliki pompa air atau dekat dengan saluran irigasi, anomali cuaca yang diprediksi bakal terjadi lagi pada tahun ini tidak begitu berpengaruh. Mereka masih dapat mendapatkan suplai air dari sumur bor atau saluran irigasi. Persoalannya, tidak sedikit klomtan belum berbadan hukum dan tidak memiliki mesin pompa air yang memadai. Parahnya lagi, lahan mereka jauh dari saluran irigasi.

Suroto mengaku pernah mengimbau sejumlah klomtan untuk mengurus badan hukum pasca pemberlakuan UU N0. 23/2014. Sebagian ada yang langsung merespons. Sebagian lagi belum bergerak sama sekali. “Dengan iklim cuaca yang seperti ini, ya tentu kami akan mendesak klomtan yang lain untuk segera mengurusnya. Toh, biayanya juga nggak terlalu mahal,” ungkapnya.

Suroto berpendapat klomtan tidak perlu menunggu bantuan dari pemkab untuk pembuatan badan hukum. Klomtan harus mengurus seluruh administrasi secara mandiri. Mengingat, pemkab juga tidak dapat berbuat banyak lantaran regulasi yang diterbitkan pemerintah pusat itu. “Jika sudah berbadan hukum pemkab baru dapat memberikan hibah mesin pompa air,” tandasnya.

Pada tahun ini, Suroto melanjutkan, para petani di pesisir selatan tidak akan merubah kalender tanam. Pada awal tahun para petani tetap akan menanam padi, meskipun ada sebagian yang menanam sayuran. Kemudian, pada bulan Maret para petani akan menanam bawang merah. Setelah itu, diselingi dengan menanam cabai sebelum akhirnya pada bulan Agustus-September para petani akan menanam bawang merah untuk musim tanam kedua.

Ketua Gabungan Klomtan Maju Satu Jawahir menambahkan, banyak klomtan yang belum berbadan hukum. Sebagian besar saat ini tengah mengurus administrasi pembuatan badan hukum. “Biar nanti mudah dapat bantuan,” ucapnya.

Pria asal Kadek, Pandak ini menyatakan, sebagian besar klomtan di sekitarnya sudah memiliki mesin pompa air. Meski begitu, dia berharap berbekal legalitas badan hukum nantinya pemkab dapat memberikan bantuan berupa banket sungai Bedog yang menjadi penyuplai air utama lahan pertanian di wilayah Kadek. “Karena dengan kondisi cuaca seperti ini tanaman tidak dapat tumbuh maksimal. Sehingga suplai air harus lancar,” tambahnya.(zam/din/ong)